Renungan

Kebahagiaan

 271 total views,  2 views today

Rabu, 09 September 2020 : 1Kor 7:25-31, Luk 6:20-26

Di samping halte bus saya jumpai dua orang anak sedang tertawa ria seraya menikmati mie goreng satu bungkus untuk berdua yang mereka beli dari seorang ibu penjual mie keliling. Lama mata saya tidak beralih dari pemandangan itu sambil saya menunggu bus yang akan membawa saya ke kota tujuan. Dengan memakai sumpit, mereka berganti-ganti menjepit mie goreng itu dan memasukkannya ke mulut. Sambil mengunyah, mereka saling menatap wajah dan kemudian tertawa. Pemandangan itu menjadi indah bagiku karena di sana tersirat dan tersurat kejernihan hati untuk membangun kebahagiaan. Terlintas aneka pertanyaan dalam benakku ketika memandangi mereka. Bagaimana caranya agar saya memiliki kejernihan hati seperti yang mereka miliki. Hingga kini pertanyaan itu sering muncul di benakku.

Dalam Injil hari ini Yesus berkata: “Berbahagialah, hai kalian yang miskin, karena kalianlah yang empunya Kerajaan Allah.” Sudah biasa saya menuliskan bahwa Kerajaan Allah tidak hanya waktu yang akan datang, tetapi juga masa yang kita jalani sekarang ini. Ketika Yesus berkata bahwa Kerajaan Allah adalah milik orang miskin, bukan mau memunculkan perdebatan dan pemisahan antara pemilik harta kekayaan dengan orang yang melarat. Fokus kotbah Yesus bukan materi. Karena itu, bukan otomatis orang yang melarat hidupnya di dunia ini berbahagia. Bahkan, sering kemiskinan menimbulkan penderitaan dan kekacauan sosial. Sabda bahagia yang disampaikan oleh Yesus membuka mata orang beriman untuk memandang materi bukan penentu kebahagiaan. Menurut ajaran Sang Guru dari Nazaret, kebahagiaan orang-orang yang empunya Kerajaan Allah terletak pada keterarahan hati pada kebaikan dan penyelenggaraan illahi. Orang yang berkekurangan pun mampu mengalami kebahagiaan manakala orientasinya terarah pada pengajaran Yesus ini. Orang kaya pun bisa berbahagia kalau materi yang dimilikinya tidak menghambat dirinya berjumpa dengan Allah dan sesama. Sebaliknya, orang miskin nan melarat pun bisa tidak bahagia kalau kemiskinan hanya menjadi bahan ratapan hingga sampai pada keyakinan bahwa pengalaman itu menutup hati terhadap penyelenggaraan illahi. Juga orang yang kaya bisa menjadi celaka bila materi itu membuat hati tertutup kepada Allah dan sesama, khususnya orang-orang lemah dan yang membutuhkan uluran tangan. Marilah kita berdoa: “Tuhan, arahkanlah pandangan kami pada kebahagiaan yang bukan ditentukan oleh materi”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

 

Leave a Reply