Renungan

Kata & Tindakan

 341 total views,  2 views today

Sabtu, 26 Sept 2020 : Pkh 11:9-12:8, Luk 9:43b-45

Ada banyak alasan kita untuk mengagumi orang tertentu. Kekaguman yang dimaksud di sini bukanlah kekaguman yang instan, kekaguman yang dipaksakan atau dikampanyekan atau karena iming-imimg seperti saya sebutkan dalam tulisan saya kemarin. Kekaguman yang saya mengerti di sini adalah kekaguman yang lahir dari proses yang panjang. Kekaguman seperti ini tidak akan mudah goyah. Kekaguman ini sungguh membuat orang loyal, berbesar hati, seimbang dan objektif terhadap orang yang dikaguminya. Maka, kekaguman demikian tidak sirna selekas ada gosip alias isu yang digelontorkan oleh orang-orang penikmat gosip atau orang-orang bayaran yang dihargai karena menterompetkan keburukan orang lain. Tidak! Orang yang kagum tidak akan mudah patah hati selekas orang yang dikagumi dicecar oleh aneka isu, mulai dari isu ciptaan hingga isu benaran. Yeaa… Kayak jual isu aja renungan di weekend ini ya. Ha ha ha.

Dalam Injil hari ini ditampilkan relasi Yesus dengan para murid-Nya. Yesus senantiasa mengajari para murid-Nya lewat kata dan tindakan. Para murid tentu kagum. Kagum karena Yesus serba bisa. Pembuat mukjizat, pengajar yang berwibawa, pengusir setan dan masih banyak tindakan Yesus yang sangat spektakuler. Namun, selekas Yesus berbicara tentang salib, para murid yang tadinya kagum menjadi diam. Ternyata, dalam benak para murid sangat minim konsep tentang penderitaan dan pengorbanan. Para murid takut terhadap salib dan karena itu harus dihindari. Jangankan untuk memikul, membicarakannya saja pun susah. Padahal, segala karya perutusan Yesus berpuncak pada salib untuk menyelamatkan manusia. Kekaguman para murid selama ini ternyata kurang ngefek buat para murid untuk siap menerima segala kemungkinan yang terjadi, di antaranya untuk masuk pada penderitaan. Cinta dan kebesaran hati terhadap derita dan perjuangan adalah milik orang-orang yang kagum. Kekaguman seperti itu bukan kekaguman semu, melainkan berorientasi pada perjuangan dalam dinamika jatuh bangun kehidupan. Marilah kita berdoa: “Tuhan, kuatkan kami selalu untuk memeluk salib dan derita kami karena kekaguman pada salib-Mu”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply