Renungan

Kasihi Musuhmu

 191 total views,  2 views today

Kamis, 10 September 2020 : 1Kor 8:1b-7. 11-13, Luk 6:27-38

Kita sadari atau tidak, seringlah kita menyimpulkan sesuatu berdasarkan akal budi saja. Kita pun pintar memilah dan memilih berdasarkan akal budi. Yang ini nggak masuk akal, yang itu masuk akal. Begitulah kita sering berkata. Sehingga, yang kita kerjakan pun memang yang masuk akal sajalah. Ajaran-ajaran juga kalau mau kita terapkan harus diukur dengan masuk akal atau tidak. Kalau masuk akal akan diterapkan lancar ibarat kendaraan melintas di jalan tol, sikap kepatuhan tampak mulus saat melakukannya. Tetapi kalau nggak masuk akal, orang akan sulit menaatinya. Itulah takaran manusia. Bahwa permainan otak mengutak-atik sesuatu berdasarkan akal budi sering menjadi penentu dan bahkan tolak ukur kebenaran. Hasil akhirnya, kebenaran yang melampaui akal tidak terkoneksi alias tidak terhubung dengan kita. Akibatnya, kita sangat sulit bertemu dengan kebenaran yang melampaui akal budi. Itulah yang menjebak kita pada lingkaran zona nyaman yang kita usahakan, padahal semakin tidak nyaman, bahkan semakin runyam.

Dalam Injil hari ini Yesus menyampaikan banyak ajaran untuk membangun hidup bersama sebagai kosmos alias kebersamaan dengan sistem yang harmonis, agar tidak menjadi chaos alias kacau dan tunggang-langgang. Umumnya kekacauan lahir karena otomatisme otak yang mengutak-atik banyak hal, bahkan yang seharusnya tak perlu diotak-atik. Maka, rasul Paulus berkata dalam bacaan pertama hari ini: “Pengetahuan menjadikan orang sombong, tetapi kasih itu membangun.” Pengetahuan yang luas bukanlah harus tampak dari kelihaian seseorang mengutak-atik remote dalam hidup bersama. Bahayanya, tolak ukur dalam hidup bersama bisa menjadi semu dan relatif karena pandangan akal budi manusiawi dipaksakan. Ajaran Yesus hari ini jauh melampaui pengutak-atikan dari otak manusia itu. Yesus berkata: “Kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik.” Apakah itu mudah masuk akal manusia? Lagi, Yesus berkata: “Hendaklah kalian murah hati sebagaimana Bapamu murah hati.” Terhadap ajaran Yesus itu, kita pun bisa berkata bahwa itu sangat tidak masuk akal dan sangat sulit mewujudkannya. Namun, yang kita pahami kemurahan hati bukanlah suatu sikap untuk memanjakan, apalagi memelihara api dalam hidup bersama yang suatu waktu akan membesar dan membakar rumah kebersamaan kita. Kemurahan hati Bapa yang diwujudkan oleh Yesus di tengah-tengah manusia menyadarkan kita bahwa kebersamaan kita tidak mungkin bisa ditata hanya dengan akal manusiawi saja. Maka, memaksakan akal budi manusia adalah usaha memupuk kekerasan. Sebaliknya, pengakuan akan keterbatasan budi membuka lebar pintu hati kita untuk menyelami kerahiman Bapa. Kalau demikian, kita bersama menuju yang sama, yakni untuk mengalami cinta Allah. Usaha umat beriman adalah membiarkan diri dituntun oleh Allah, dicintai oleh Allah. Semakin mengalami kerahiman Allah, maka akan semakin mudah pula membangun kebersamaan yang harmonis. Membiarkan Allah mencintai diri kita berarti membuka diri agar Allah tinggal dalam diri kita dan Allah sendiri yang membuat kita mampu mencintai sesama. Jalan ke sana memang sering tidak mulus, walau menjanjikan. Kesulitannya adalah karena akal budi harus jinak pada Sang Jalan, Kebenaran dan Hidup. Marilah kita berdoa: “Tuhan, semoga kami tidak menolak untuk Engkau cintai, agar kami tahu mencintai sesama”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply