Renungan

Iman yang Berbuah

 205 total views,  3 views today

Sabtu, 12 September 2020 : 1Kor 10:14-22, Luk 6:43-49

Untuk kesekian kalinya saya mengulas lagi tentang hati. Bagian itu paling inti dan sangat berpengaruh dalam diri manusia. Manusia mengendalikan dirinya dan menjalani kehidupannya serta berelasi dengan dunianya sangat tergantung pada hati. Gereja kita senantiasa memohon dengan sangat kepada Tuhan dengan berkata: “Tanamkanlah Sabda-Mu ya Tuhan dalam hati kami”. Itu bukan sekadar permohonan, melainkan upaya umat beriman untuk menjaga hati terhadap bujukan yang datang dari berbagai arah yang membuat manusia mudah hilang pendirian. Menjaga hati seraya membuatnya kontak dengan segala situasi hidup kita berarti dengan kesadaran penuh memakai kebebasan. Haruslah dengan kesadaran penuh kita menggunakan kebebasan.

Dalam Injil hari ini Yesus menyampaikan wejangan kepada murid-murid-Nya: “Tidak ada pohon baik yang menghasilkan buah yang tidak baik. Dan tidak ada pula pohon tidak baik yang menghasilkan buah baik”. Kata-kata Yesus ini menjadi penegasan akan perlunya konsistensi dalam hidup beriman. Iman bukan pasif, melainkan harus nyata dalam sikap, pilihan-pilihan dan tindakan orang beriman. Tindakan itu tidak boleh asal-asalan, tetapi harus keluar dari kesadaran. Itulah kebebasan. Pilihan juga bukan dibuat berdasarkan azas manfaat seperti sering kita saksikan saat ini. Banyak orang yang menjadi korban perahan sesama alias dimanfaatkan. Bukan pula asal melampiaskan kata-kata dan tindakan begitu saja. Kebebasan bukan keliaran seperti gaya hidup simpanse yang brutal yang melawan harmonisasi kehidupan bersama, tetapi juga bukan kaku dalam memperjuangkan kebaikan bersama. Tindakan bebas manusia adalah output/hasil dari kesadaran. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki kebebasan akan selalu tampil dengan dua wajah. Begitu sering dunia kita mempertontonkan itu saat ini. Diantaranya adalah sikap plin-plan dan opportunis, memilih berdasarkan kepentingan kelompok tertentu. Kejelian kita membaca sikap orang saat ini bukan lagi sekadar melihat rencana-rencana, janji-janji, rayuan, harapan dan cita-cita entah sebombastis apa pun. Sebab, kedalaman sikap seseorang bukan tampak dalam kelihaian mengumbar kata apalagi berbelit dan berkelit dengan aneka permasalahan. Orang yang telah berkarya dan berbuah tidak pernah merasa sempurna dan selalu menyadari keterbatasan itu. Pengakuan akan keterbatasan itu jugalah sebagai buah orang baik. Sebab orang seperti itu yakin bahwa waktu adalah rahmat untuk senantiasa menjadi kesempatan untuk mengasah kedalaman dan memperjuangkan kebaikan walaupun kadang tertatih-tatih. Marilah kita berdoa: “Tuhan, dari kelimpahan-Mu Engkau memberi kami buah salib, semoga kerelaan dan pengorbanan kami umatmu yang terbatas ini menjadi tanda-tanda kebaikan-Mu pada jaman ini”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply