Renungan

Haus Harga Diri

 265 total views,  3 views today

Kamis, 24 Sept 2020 : Pkh 1:2-11, Luk 9:7-9

Belum lama ini dunia dikagetkan dengan berita terbunuhnya Pastor Roberto Malgesini karena ditikam di Gereja St. Rocco di Kota Como Italia. Sehari-hari Pastor Malgesini melayani para tunawisma dan migran di Keuskupan Como, Italia Utara. Menurut berita, pastor ini dibunuh saat akan sarapan bersama para tunawisma. Perhatian, kepedulian dan pelayanannya terhadap orang kecil menerima balasan tragis seperti itu sungguh memilukan. Namun, kita yakin bahwa pelayanan itu tidak akan berakhir. Justru, mata banyak orang terbuka dan melihat bahwa pelayanan dengan segala tantangan justru memikat hati banyak orang karena di sana tertemukan cinta yang sejati. Cinta seperti itu bukanlah cinta yang membeo, melainkan cinta yang lahir dari keberanian, keteguhan hati sehingga tidak ditumpangi oleh sikap cengeng. Yang mengalami cinta seperti itu juga bukan memanfaatkannya sebagai pemanjaan. Kematian pastor ini menambah deretan banyak orang yang telah terbukti setia menghadirkan pelayanan Kristus yang menderita dan wafat di salib.

Dalam Injil hari ini disampaikan kepada kita tentang hasrat Herodes untuk berjumpa dengan Yesus. Namun, motif Herodes bukan berasal dari kerinduan terdalam untuk mengalami sapaan Sabda Allah. Motifnya berawal dari kepicikan dan iri hati, memandang diri sebagai pemegang satu-satunya kebenaran yang berwibawa. Akhirnya, dia mengalami ketakutan dan kecemasan ketika mendengar dari orang banyak tentang apa yang diperbuat oleh Yesus. Padahal, Herodes sudah sukses membunuh Yohanes dengan cara tragis, yakni memenggal kepalanya karena Yohanes mengkritik tindakan salah Herodes. Ternyata, kematian Yohanes yang adalah kepuasan bagi Herodes tidak mengakhiri kecemasan dan ketakutan karena Herodes senantiasa haus akan harga diri yang semu. Tragedi ini masih berlangsung hingga kini dan masih akan terus berlangsung. Sejumlah konflik yang terjadi dunia kita disebabkan oleh hadirnya Herodes-Herodes baru yang dibayang-bayangi oleh rasa takut, cemas dan terancam berhadapan dengan orang lain karena haus akan harga diri yang palsu. Orang yang selalu dibayang-bayangi ketakutan dan kecemasan akan menimbulkan derita bagi dirinya dan orang lain. Cara-cara bijak dalam pelayanan kita harus kita tinjau selalu agar kita tidak terjebak pada pencarian harga diri, pembenaran diri dan akhirnya tertutup serta merasa terancam karena kehadiran sesama. Di tengah dunia yang sibuk dengan persaingan ini, kita diajak untuk selalu merajut kebersamaan walau pilihan dan ide serta pemikiran berbeda-beda. Dalam hening terbujur kaku setelah terbunuh, Pastor Roberto menghadap Allah hendak mengingatkan kita bahwa Allah tidak pernah berhenti membarui dunia melalui orang-orang yang mengikuti jalan Kristus. Jalan itu jalan derita dan sangat menantang. Marilah kita berdoa: “Tuhan, ajar kami untuk yakin mengikuti Engkau”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply