Renungan

Gangguan Batin

 188 total views,  2 views today

Senin, 07 September 2020 : 1Kor 5:1-8, Luk 6:6-11

Kemarin saya merasa geli membaca banyak komentar orang di dunia media sosial tentang hiruk pikuk demokrasi menjelang pilkada di sejumlah daerah. Saat melakukan pendaftaran ke KPUD, pasangan calon didampingi oleh para calon pemilihnya. Saya sebut calon pemilih karena orang banyak yang menghantar pasangan tertentu mendaftar ke KPUD belum bisa dipastikan akan memilih pasangan tersebut. Bisa saja calon pemilih itu menghantar untuk sekadar mendaftar. Tetapi untuk memilih?  Kita lihat saja pada hari-H! Itu pulalah yang membuat saya tersenyum-senyum. Sekaitan dengan para simpatisan yang berhamburan di jalan raya yang terkesan kurang peduli dengan aturan lalu lintas muncullah berbagai kritikan dan komentar. Saling membalas komentar membuat perdebatan semakin sengit di media sosial. Setiap orang mengungkapkan kebenaran pendapatnya masing-masing. Tetapi, kebenaran justru semakin jauh, sebaliknya muncullah sikap saling menjatuhkan. Media sosial menjadi wadah untaian kata-kata sampah.

Dalam Injil hari ini dikisahkan sikap ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terhadap Yesus. Mereka mengamat-amati Yesus bukan karena tertarik kontak batin dengan karya Yesus. Sebaliknya, mereka ingin mencari celah untuk mempersalahkan Yesus. Kalau orang ingin selalu mencari celah untuk mempersalahkan orang lain, maka orang demikian sebenarnya sedang mengalami gangguan batin. Bisa dipastikan bahwa orang yang selalu berorientasi pada kekeliruan dan kesalahan orang lain akan melahirkan kekeliruan dan kesalahan baru dalam bentuk lain dan lebih buruk. Maka, masuk akallah arogansi semakin menguat sebagai timbunan dari ketidaksiapan menerima kelemahan dan kesalahan sendiri. Entah pejalan kaki, entah pengendara ya kalau melanggar peraturan lalu lintas ya ada sanksinya. Sekurang-kurangnya dinasihati sebagai upaya penyadaran akan pentingnya disiplin dalam kehidupan bersama. Tapi kalau pelanggar ketertiban umum nggak terima dipersalahkan, maka akan diusahakan untuk melakukan pembelaan diri sedaya mampu. Sialnya, kebiasaan mempersalahkan orang lain itulah yang membuat buta untuk melihat kesalahan sendiri. Amarah pun bisa menjadi alat untuk menyembunyikannya kelemahan dan memang itulah penyakit yang sulit disembuhkan seperti yang dialami oleh para lawan Yesus. Sulit menemukan kebahagiaan bisa jadi puncak dari aneka bungkusan kepahitan dalam diri yang selalu mempersalahkan diri. Marilah kita berdoa: “Tuhan, ajari kami untuk tahu diri agar tidak kesulitan membangun kehidupan bersama yang lebih baik”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

 

 

Leave a Reply