Renungan

Bunda Maria Berdukacita

 163 total views,  2 views today

Selasa, 15 September 2020 : Peringatan Bunda Maria Berdukacita, Ibr 5:7-9, Yoh 19:25-27

Setelah kita berpesta kemarin sebagai upaya untuk memahami salib terus-menerus, sekarang kita diajak untuk menikmati duka. Koq menikmati ya? Apa ada orang yang gampang menerima duka dan selalu mengenangnya? Mana ada orang yang senang berduka, apalagi menikmati. Ya, tapi begitulah memang kesulitan nalar kita memahami derita dan duka lara di dunia ini. Semakin tidak disenangi dan berusaha menjauhinya, ternyata tak bisa terelakkan. Kedengarannya aneh!  Tapi, perhatikanlah seseorang yang berusaha mengolah pergulatannya sendiri demi kebaikan dan keharmonisan bersama,  kesabaran seorang ibu yang berusaha menyimpan pergulatan batinnya. Bahkan, boleh juga mewujud dalam ketegaran seorang ibu yang sedang pilu tapi tidak tega menangis di hadapan anak-anaknya. Tentang kekuatan menyimpan banyak derita itu, saya teringat dengan ungkapan: “Ibu menyimpan sejuta bohong”. Ibu berbohong bahwa ia tidak lapar, ibu berbohong bahwa ia tidak capek, ibu berbohong bahwa ia tidak sakit, ibu berbohong bahwa ia tidak sakit hati, ibu berbohong bahwa ia tidak sedang tertekan batin dan sebagainya. Itu semua dilakukan oleh ibu bukan karena ia ingin menyiksa dirinya sendiri, tetapi karena ia memiliki cara pandang tertentu memahami derita.

Dalam Injil hari ini Yesus berkata: “Ibu, inilah anakmu!” Kemudian, Yesus berkata lagi kepada murid-Nya: “Inilah ibumu!” Kata-kata Yesus ini terucap saat peristiwa tragis yang kita pestakan kemarin yakni saat penyaliban. Di dekat salib itu, Ibu Yesus berdiri dengan Maria isteri Kleopas dan Maria Magdalena. Diam, pilu dan menangis di dekat salib tidak hanya terjadi saat penyaliban Yesus pada masa dulu. Saat ini juga ada banyak orang yang mengalami hal yang sama dengan yang dialami oleh Maria ibu Yesus. Diam, menangis, pilu karena tidak mengerti dan tidak memahami seutuhnya mengapa derita dan kesusahan terjadi begitu menyesakkan. Beraneka derita dan duka tidak terelakkan. Maka, menikmati derita dengan cara Maria bunda Tuhan dan bunda kita adalah cara orang beriman agar tidak putus asa, tidak cengeng dan tidak ingin cepat-cepat melarikan diri dari kenyataan hidup. Dalam derita, marilah selalu mendekat pada salib Tuhan. Sebab, dari Salib-Nya, Yesus meneguhkan kita bahwa kita memiliki ibu yang tak kurang deritanya dari kita. Seperti diperintahkan oleh Yesus, marilah kita menerima ibu kita selalu di rumah kita, di batin kita sehingga doa salam Maria meresap dalam hati kita sebagai upaya kesetiaan dan kesiapan dalam pergulatan hidup seperti Bunda Maria teladan orang beriman. Marilah kita berdoa: “Tuhan, dekatkan kami selalu pada salib-Mu bersama bunda-Mu dan murid-murid-Mu yang lain agar kami kuat menerima kenyataan hidup kami”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

 

Leave a Reply