Renungan

Bagaimana buta menuntut yang buta ?

 260 total views,  2 views today

Jumat, 11 September 2020 : 1Kor 9:16-19. 22b-27, Luk 6:39-42

Kalau seseorang ingin terkenal tetapi cara yang ditempuh adalah memburuk-burukkan orang lain, itu tak lebih dari sebuah sikap untuk mengulang gaya hidup simpanse atau mahkluk yang tak bisa disejajarkan dengan manusia. Dalam kasus seperti itu sulit ditemukan manusia menggunakan komponen utamanya untuk membangun kehidupan bersama selain untuk melampiaskan keinginannya untuk mencari lawan. Saya bukan mau mengatakan bahwa tidak boleh mengkritik apalagi menghalangi siapa pun untuk bersaing dan menjadi pemenang dalam kontestasi apa pun di panggung kehidupan ini. Setiap orang memiliki cara untuk mengaktualisasikan diri dalam kehidupan bersama apalagi dengan cita-cita untuk membangun kehidupan bersama. Tetapi, betapa konyolnya cita-cita untuk membangun kehidupan bersama ditumpangi oleh kepentingan yang terselubung dan kemudian dipoles dengan aneka bumbu keutamaan yang sebenarnya bukan keutamaan, melainkan perspektif yang didasarkan atas suka atau tidak suka. Menyampaikan kritik atau mengoreksi sesama adalah keutamaan dalam hidup bersama. Semakin orang berbuat tentunya akan semakin siap dikritik. Hanya orang yang berbuatlah yang berhak menerima kritikan. Betapa janggal dan anehnya kalau belum berbuat apa-apa pun sudah terpapar dan bahkan hampir hanyut dalam aneka persoalan yang menjeratnya. Mau buat apa lagi? Untuk menyampaikan kritik atau mengoreksi memang tidaklah harus berusaha dulu untuk menjadi sempurna. Karena, kritikan bukan jalan atau cara untuk menguasai. Namun, justru sebaliknya yang mencuat akhir-akhir ini di tengah masyarakat kita. Seseorang atau kelompok tertentu berusaha mengetahui data pribadi orang tertentu dan kemudian merasa berkuasa atas orang itu karena telah mengantongi boroknya. Konyol bukan? Bahkan sangat kekanak-kanakan!

Dalam Injil hari ini Yesus melanjutkan ajarannya tentang upaya pembangunan kehidupan bersama. Dengan tegas Yesus memakai kiasan orang buta yang menuntun orang buta untuk menggambarkan orang yang tidak tulus mempertontonkan ketidaktulusan yang justru membuat orang lain terkecoh. Bisa saja memang orang berusaha menyingkap keburukan orang lain untuk menutupi keburukan sendiri. Maka, mata yang dimaksud oleh Yesus dalam Injil hari ini bukan hanya mata kepala. Bagi orang beriman, hati nurani adalah alat utama dalam memandang, menilai diri dan menilai orang lain. Tanpa itu, mata kepala bisa berkedip-kedip terhadap sesama tanpa reflector alias dibuat-buat. Ada mata yang berkedip saat melihat kesalahan orang lain karena itu menguntungkan pada dirinya. Sementara ada mata yang membelalak saat melihat kesalahan orang lain karena merasa dirugikan dan karena itu langsung tertarik untuk memanfaatkannya dan kemudian menguasainya. Ah, mata memang sering menipu! Marilah kita berdoa: “Tuhan, Engkau lebih dulu tinggal di dalam hati kami sebelum terlihat oleh mata kami”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply