Renungan

Arti Pelayanan

 323 total views,  2 views today

Jumat, 18 Sept 2020 : Peringatan Wajib St. Yosef Copertino, 1Kor 15:12-20, Luk 8:1-3

Menurutku aneh kalau seseorang ingin jadi pelayan tapi harus kampanye dan tebar pesona dulu entah dengan aneka jurus maut. Aneh kan kalau ada orang yang promosi dulu baru melayani. Atau ada-ada saja yang begitu bahagia mensosialisasikan slogan yang akan diwujudkan nanti kalau sudah jadi pelayan. Koq pakai kata kalau? Makin aneh lagi karena sibuk mencari kelemahan orang lain dan adu argumen demi mencapai posisi sebagai pelayan. Bahayanya, pemahaman tentang pelayanan diartikan sebagai usaha untuk cari panggung walau dibungkus dengan kata pelayanan. Kalau kita tidak teliti melihat orang seperti itu, kita tidak akan tahu bahwa ia sedang memperlakukan manusia sebagai objek. Manusia dikelabui dan ditipu ya demi panggung empuk tadi. Kemasan yang selalu dipakai ialah pelayanan. Miris memang tapi itu nyata.

Dalam Injil hari ini dikisahkan pelayanan Yesus yang didukung oleh para murid dan para wanita. Ketertarikan para murid Yesus dan para wanita untuk mengikuti Yesus dalam pelayanan-Nya bukan mau cari panggung, melainkan bersumber dari pengalaman berelasi dengan Tuhan. Penginjil mengatakan bahwa para wanita itu telah disembuhkan Yesus dari roh-roh jahat serta berbagai macam penyakit. Pembaca renungan ini barangkali bisa melihat dengan hati roh-roh jahat yang dimaksud di sini. Ternyata kualitas pelayanan sangat ditentukan oleh pengalaman dan proses panjang. Tanpa itu akan tetap muncul pencipta kampanye-kampanye soleh dan soleha yang berusaha menjadi pelayan tanpa pengalaman dan relasi dengan Tuhan dalam aneka bentuk. Dalam perutusannya, Yesus sudah berulangkali menegaskan arti pelayanan.  Pelayanan Yesus adalah pelayanan tipe blusukan ke akar rumput. Blusukannnya itu pun bukan blusukan yang tergesa-gesa yang terkesan dikarbit atau blusukan yang ada maunya. Blusukan karbitan inilah yang membantu kita untuk membedakan mana yang memakai baju pelayan dan mana yang memang dari dirinya mau melayani. Proses perjalanan pelayanan Yesus hendaknya pula menjadi dinamika pelayanan umat beriman. Dengan demikian, kita semakin yakin bahwa pelayanan bukanlah hobby pribadi, melainkan karunia Allah kepada orang-orang yang mau sejalan dengan Dia. Jahatnya, kata pelayan dipakai penikmat kampanye yang justru menipu yang membuat yang lain jadi boneka ataupun kuda tumpangan. Marilah kita berdoa: “Tuhan, ajari kami untuk menjadi pelayan tanpa kampanye”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply