Renungan

Pengajaran Yesus kepada para pengikut-Nya

 169 total views,  2 views today

Sabtu, 22 Agustus 2020
Peringatan Wajib Santa Perawan Maria, Ratu
Yeh 43:1-7a
Mat 23:1-12

Tontonan tentang agama dan ajarannya sudah membanjiri dunia media sosial. Para pengajar iman entah bergelar apa pun menyampaikan ajaran iman yang dianutnya melalui media sosial, Youtube, Facebook dan sebagainya. Tujuannya adalah untuk meyakinkan para penganutnya mengenai kebenaran-kebenaran iman yang dianutnya. Para pengajar iman memberikan pencerahan kepada umat beriman agar semakin beriman dan tentu agar iman berbuah melalui tindakan sehari-hari. Namun, ternyata ada hal yang mencemaskan juga karena tidak jarang para pengajar iman tidak bisa menahan diri terhadap keinginan diri sendiri. Entah keinginan untuk viral, entah keinginan untuk tenar dan disanjung dengan puja-puji, menggoda para pengajar iman pada jaman ini sehingga pengajaran menyerempet dunia yang bukan ranahnya. Akibatnya, ada yang tersinggung dan berlakulah hukum pembalasan karena kelompok yang merasa disudutkan tidak menerima kenyataan itu, maka dibalas dengan caci-maki. Begitulah hari demi hari dunia media sosial kita, di samping banyak hal yang baik, konflik antar penganut iman yang berbeda identitas memenuhi ruang media sosial kita. Harapan kita ialah bahwa tontonan yang menyejukkan dan mencerahkan bagi kehidupan bersama kita semakin bertambah dan pelan-pelan tontonan atau ulasan yang melahirkan konflik perlahan-lahan surut dan punah.

Dalam Injil hari ini disampaikan kepada kita pengajaran Yesus terhadap orang banyak. Yesus mengajak para pengikut-Nya agar tidak menuruti perbuatan-perbuatan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Mengapa? Karena lain yang diajarkan oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, lain pula yang mereka laksanakan. Sikap demikian pasti membingungkan dan tidak membangun keharmonisan. Hal yang sama kita temukan pada jaman sekarang. Ada orang yang atas nama iman dan kasih menyampaikan ajaran tertentu dan kebenaran iman tertentu, tetapi sekaligus mengusik penganut agama yang lain, mengusik hidup orang yang lain. Sangat membingungkan dan sangat tidak masuk akal sebenarnya mengamati pengajaran orang seperti itu. Tetapi begitulah yang sering terjadi dalam dunia kita sekarang ini, entah di dunia nyata maupun di dunia maya. Yesus berkata: “Tetapi kalian, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satulah Rabimu dan kalian semua adalah saudara.” Rabi adalah gelar kehormatan bagi para pengajar Taurat atau para pengajar iman, yang berarti Guru. Namun, guru-guru iman pada jaman ini sering tidak menghantar orang pada pencerahan melainkan pada ajaran pribadi pengajar tertentu dan akibatnya sering tidak sesuai dengan cita-cita membangun keharmonisan hidup bersama. Yesus adalah Sang Guru Sejati dari Nazaret mengajarkan bahwa kita semua adalah saudara. Semua ajaran pengikut Yesus harus berlandaskan pada persaudaraan sejati. Marilah kita berdoa: “Tuhan, ajarilah kami beriman dan bersaudara.”
(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply