Renungan

Pakaian layak dalam mengikuti Perayaan

 286 total views,  2 views today

Kamis, 20 Agustus 2020
Yeh 36:23-28
Mat 22:1-14

Hidup adalah perayaan. Perayaan yang dimaksud di sini tidak sama dengan suasana hingar bingar, hiruk-pikuk, dentam-dentum musik plus glamournya atraksi. Bukan! Sejatinya hidup disebut perayaan karena manusia mampu mengenali dirinya hingga sampai pada kesadaran bahwa hidup yang dialaminya adalah pemberian Allah. Hubungan antara manusia dan Pemberi hidup manusia sangat menentukan kualitas perayaan yang dirayakan manusia sebagai bentuk pemaknaan hidup. Dengan demikian, perayaan adalah kesadaran bahwa hidup adalah pemberian yang harus diolah terus-menerus agar kehidupan sesuai dengan kehendak Pemberi hidup itu.

Dalam Injil hari ini dikisahkan masih seputar pengajaran Yesus tentang Kerajaan Allah. Dengan memakai perumpamaan raja yang menyuruh hamba-hambanya untuk memanggil orang kepada perjamuan yang telah disediakan, Yesus menegaskan bahwa Allah senantiasa rindu untuk berjumpa dengan umat-Nya mengadakan pesta perjamuan. Sejak awal mula Allah dengan penuh cinta menciptakan manusia agar manusia mengalami kebahagiaan. Allah tidak pernah menginginkan manusia untuk menderita. Allah senantiasa mengundang manusia untuk dekat dengan Dia. Tetapi, penolakan-penolakan dari orang-orang yang digambarkan dalam Injil hari ini adalah gambaran manusia juga pada jaman sekarang yang menolak tawaran Allah untuk dekat dan berbahagia dengan Dia. Bahkan yang lebih miris lagi ialah bahwa orang yang menyebut diri sebagai orang yang ikut serta dalam perjamuan Tuhan, nekat memakai pakaian yang tidak layak untuk pesta perjamuan. Pakaian pesta yang dimaksud di sini bukanlah sekadar kain penutup tubuh atau penampilan. Kelayakan atau ketidaklayakan bukan diukur pada sesuai penampilan lahiriah. Lebih dari itu, pakaian pesta bermakna keaslian dan kesejatian kita sebagai umat ciptaan Tuhan yang telah dikaruniakan Tuhan kepada kita sejak awal mula. Sering terjadi dalam hidup kita bahwa hidup bukan lagi sebuah perayaan karena manusia memiliki kecenderungan menggantikan keaslian dan kesejatian diri kita yang diciptakan Allah dengan memakaikan pakaian-pakaian buatan tangan manusia yang menjelma dalam kebebasan yang tak teratur, otonomi diri yang berlebihan dan ekslusivisme pengkotakkotakan yang melahirkan konflik. Ada banyak lagi jenis pakaian yang menutupi kesejatian kita. Pakaian-pakaian seperti itu hanya akan melahirkan derita dan menjadikan hidup bukan lagi perayaan. Marilah kita berdoa: “Tuhan, kuatkan kami untuk setia pada pakaian sejati yang Engkau kenakan pada diri kami sehingga kami mampu merayakan hidup yang Engkau anugerahkan”
(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply