Renungan

Mencobai Yesus

 312 total views,  2 views today

Jumat, 21 Agustus 2020 : Yeh 37:1-14, Mat 22:34-40

Kalau seorang bertanya bisa jadi menunjukkan salah satu sikap dari dua kemungkinan sikap. Pertama, sikap rendah hati. Kedua, hendak mencobai. Sikap rendah hati mewujud dalam pertanyaan karena ingin mengetahui kebenaran, memperluas wawasan hingga sampai pada kesadaran bahwa manusia sepanjang masa perlu belajar maka perlu bertanya. Sementara dalam sikap yang kedua yakni mau mencobai, tidak ada keinginan untuk mencari kebenaran melainkan menilai pengetahuan seseorang dan yang bertanya sudah mempersiapkan amunisi untuk menyerang. Berarti, pertanyaan bukan upaya pencarian kebenaran melainkan langkah awal untuk menyerang. Sampai kapan pun tidak mungkin menyatukan persepsi dengan orang yang doyan bersikap seperti itu. Banyak alasan orang untuk bersikap seperti itu dan semuanya bermula dari ketertutupan hati plus ketidakmampuan mengolah dan mengasah hati nurani.

Dalam Injil hari ini dikisahkan perjumpaan Yesus dengan ahli Taurat. Ahli Taurat bertanya kepada Yesus: “Guru, hukum manakah yang terbesar dalam hukum Taurat?” Katanya ahli Taurat, tapi koq masih nanya sama Yesus. Setiap hari si ahli sudah akrab dengan Taurat, membolak-balik Taurat dan membacanya. Penginjil dengan jelas menerangkan bahwa ahli Taurat mau mencobai Yesus, bukan mau diskusi memperkaya pemahaman tentang Taurat. Bertanya koq coba-coba?  Saya jadi teringat akan teman saya yang bercerita tentang sikapnya yang sekadar coba-coba untuk berbisnis. Akibatnya ialah kerugian besar. Saya katakan supaya itu menjadi pelajaran berharga baginya untuk melanjutkan dunia bisnis lagi. Dia berkata bahwa memang sejak awal dia tidak berniat dan berminat dengan bisnis itu. Dia sekadar mau coba-coba. Lho, gimana ya mencoba tanpa niat? Begitu sering kita orang yang beriman tampak sekadar mencoba-coba dalam beriman, bukan berusaha dengan niat sepenuh hati menjadikan iman sebagai pembentuk hidup, tentu dengan segala perjuangannya. Karena itu, iman sering diperalat. Hasilnya ya perkumpulan kaum beriman sering terjerembab pada sistem organisasi belaka. Mudah dihasut dan memang rapuh serta tidak kokoh. Umat terpecah belah, terjadi kubu-kubuan dan sebagainya. Semuanya berawal dari penyempitan makna iman yang tak lebih dari sekadar identitas berorganisasi. Entah sampai kapan begini dunia kaum beriman. Marilah kita berdoa: “Tuhan, semoga iman mempersatukan kami dan bukan menjadi alat mencobai Engkau di tengah-tengah dunia ini.”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply