Renungan

Kesetiaan

 407 total views,  2 views today

Jumat, 14 Agustus 2020 : Yeh 16:1-15. 60. 63, Mat 19:3-12

Belum lama ini saya dan teman saya ngobrol tentang masa kecil. Ada banyak yang lucu dan membahagiakan, tetapi juga ada yang menyedihkan bahkan menyakitkan. Ya, itu biasa toh?  Coba kalau semuanya yang manis, pasti akan selalu dikerumuni semut. Syukur-syukur semutnya semut kecil dan gigitannya cuma sakit sebentar. Tapi kalau semutnya semut besar, gimana?  Waduh, bingung amat sih bayangin semut-semut pada renungan kali ini, emang gimana ukuran semut besar? Ha ha ha. Makanya jangan tafsir hurufiah melulu dong. Tafsirkanlah semut itu dengan apa-apa pun yang bisa menggerogoti hidup. Awalnya tidak terasa ada apa-apanya, namun semakin hari semakin menjadi apa-apa. Atau, seperti rayap, yang cara kerjanya pelan-pelan, tapi suatu saat kelihatan bahwa kerjaannya itu sangat jelas berbahaya. Rayap yang kecil dengan cara yang sangat pelan bisa merusak bagian-bagian bangunan rumah atau gedung kokoh lainnya. Koq, hari ini tentang semut dan rayap bahasan pengantar renungan pastor?

Dalam Injil hari ini, Yesus menjelaskan esensi dua pilihan hidup, menikah dan tidak menikah. Seperti biasa, orang Farisi suka bertanya walaupun nggak mampu menerima pendapat atau ajaran Yesus. Lebih tepatnya, cuma mau ngecobain Yesus aja. Ya iya dong, masa bertanya cuma ngecobai aja? Pura-pura, ngetest atau ngecobai atau apalah namanya yang pas buat orang Farisi. Yesus menjelaskan esensi perkawinan, yakni persekutuan seorang pria dan seorang wanita karena cinta kasih Allah. Karena dasarnya cinta Allah, maka manusia nggak boleh sesuka hati mengakhiri persekutuan itu. Kesetiaan adalah mutlak perlu agar pengalaman saling mencintai sesuai kehendak Allah menjadi pengalaman suami-isteri. Tidak mungkin sekali jadi apalagi instan. Hal itu membutuhkan proses terus-menerus. Motivasinya ialah karena kesetiaan pada Allah. Hal yang sama juga bagi orang yang tidak menikah. Entah karena dari sononya memang tidak mampu kawin, maupun karena kemauannya sendiri demi Kerajaan Surga, orang-orang demikian  harus hidup dengan mengutamakan kesetiaan pada Allah. Maka, menikah dan tidak menikah bukanlah keterpaksaan, melainkan wujud kesetiaan pada Allah yang mencintai umat-Nya. Pasangan suami isteri adalah lambang kesetiaan Tuhan dan Gereja/Umat-Nya. Kesadaran seperti itu adalah pupuk yang menyuburkan bagi kesetiaan untuk mempertahankan pilihan hidup setiap orang. Sialnya, semut dan rayap yang menggerogoti kesetiaan pada jaman ini, belum musnah dan bahkan makin berkembang biak. Kalau pun ada semut dan rayap yang menggerogoti kesetian pasangan suami-isteri atau kesetiaan orang-orang yang berusaha mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan dengan tidak menikah, semoga menemukan cara-cara yang kreatif yang berkenan pada Tuhan untuk bertahan dan menang melawan godaan ketidaksetiaan pada jaman ini. Marilah kita berdoa: “Tuhan, tambahkanlah selalu kesetiaan kami kepada-Mu”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply