Renungan

Kemuliaan Allah

 404 total views,  2 views today

Kamis, 06 Agustus 2020 : Pesta Yesus Menampakkan Kemuliannya, Dan 7:9-10. 13-14, Mat 17:1-9

Masih dalam situasi berjuang bersama menghadapi virus yang telah mengakibatkan banyak korban, dunia kita berduka. Ratusan orang meninggal dan banyak terluka karena ledakan yang dahsyat di Beirut, ibukota Lebanon. Bila mengamati foto-foto dan video yang beredar di dunia maya, betapa sedihnya menyaksikan gelapnya dunia yang dialami manusia, khususnya yang berada di Lebanon. Asap mengepul tinggi dan ledakan besar yang mengakibatkan gedung-gedung porak-poranda. Ini salah siapa? Kita tunggu hasil penyelidikan resmi seraya turut berbelasungkawa dengan keluarga para korban tewas dan terluka. Dalam situasi pandemi yang mencemaskan ini, penderitaan mereka bertambah lagi karena ledakan ini.

Dalam Injil hari ini dikisahkan bahwa Yesus berubah rupa di depan mata para murid-Nya. Wajah Yesus bercahaya seperti matahari, dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Bagi para murid, pengalaman ini adalah pengalaman nyata akan identitas Yesus sebagai Anak Allah dan serentak juga para murid mengalami kobaran semangat untuk ikut serta secara dekat dalam hidup dan karya Yesus. Peristiwa transfigurasi hendaknya kita mengerti bukan atraksi akrobatik Yesus yang gila-gilaan akan hormat. Peristiwa ini adalah bagian dari rentetan peristiwa hidup dan karya Yesus yang menyadarkan para murid-Nya akan tugas dan misi Yesus, yakni menunaikan amanat Bapa. Kemuliaan Yesus terletak pada ketaatan-Nya untuk mewujudkan misi Bapa. Para murid disadarkan bahwa yang mereka ikuti adalah Anak Allah. Ikut dalam kemuliaan Yesus berarti selalu taat dan siap sedia berjalan mengikuti-Nya. Rasanya memang sangat sulit melihat kemuliaan Allah pada jaman ini. Bukan karena Allah tidak menunjukkan kemuliaannya. Tetapi, karena kemuliaan manusia sering membuat terhambat untuk melihat kemuliaan Allah. Akibatnya, manusia kesulitan melihat wajah Allah yang bersinar menerangi kegelapan dunia. Begitu banyak konflik dan perseteruan di lingkungan kita sebagai akibat dari kehausan diri sendiri terhadap kemuliaan pribadi dan kelompok. Pencariaan kemuliaan demikian adalah pemaksaan yang akan melahirkan rentetan kekerasan. Kapan kita berusaha menguranginya? Marilah kita berdoa: “Tuhan, hanya Engkaulah yang pantas kami muliakan dan kami semua adalah abdi-Mu”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply