Renungan

Iman yang Terombang-ambing

 402 total views,  3 views today

Senin, 03 Agustus 2020 : Yer 28:1-17, Mat 14:22-36

Kata ke-pe-de-an sudah menjadi kata yang biasa digunakan walaupun tidak punya arti. Kata itu sebenarnya berasal dari kata percaya diri yang disingkat menjadi pe-de. Maka, ke-pe-de-an artinya terlalu percaya diri. Itu saya pastikan bukan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tetapi begitulah kenyataannya dalam hidup sehari-hari bahwa kata ke-pe-de-an digunakan untuk menggambarkan sikap orang tertentu yang terlalu percaya diri. Bisa juga dihubungkan dengan overacting. Walaupun ke-pe-de-an bukanlah bahasa Indonesia yang baik dan benar, tetapi banyak orang yang sudah mengerti dan memahaminya sehingga menggunakannya dalam percakapan sehari-hari. Barangkali kata itu cocok ditempatkan untuk menerangkan sikap para murid, khususnya Petrus yang mendapat kunjungan Yesus sebagaimana dikisahkan dalam Injil hari ini.

Dalam Injil hari ini dikisahkan kehadiran Yesus menuju para murid-Nya yang berada dalam perahu. Perahu para murid sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan sedang diombangambingkan gelombang karena angin sakal. Tidak ada satu orang pun di antara murid yang mengundang Yesus saat perahu para murid itu mengalami gelombang. Yesus sendirilah yang berinisiatif untuk datang mengunjungi perahu yang ditumpangi para murid. Sebelumnya, para murid telah mengalami kebersamaan yang hangat dengan Yesus dalam acara makan bersama yang dinamai dengan pergandaan roti. Tetapi, ternyata belum jelas juga pengenalan para murid terhadap Yesus. Memang, jam tiga malam di tengah danau melihat sosok seseorang berjalan di atas air bisa jadi menakutkan. Tapi bukankah ini juga kenyataan yang sering kita hadapi dalam hidup kita saat ini?  Di saat kita berada dalam kegelapan dan gelombang yang dahsyat kita mengalami ketakutan. Anehnya, di tengah ketakutan itu, para murid justru ke-pe-de-an dengan menyebut Yesus sebagai hantu. Petrus pun yakin benar dengan pandangan group itu bahwa Yesus adalah hantu. Sehingga, ia berkata: “Tuhan, jika benar Tuhan sendiri, suruhlah aku datang kepada-Mu dengan berjalan di atas air.” Jika benar! Apa alasan Petrus untuk berkata jika benar? Yesus berkata: “Datanglah!” Tetapi, Petrus menjadi takut dan mulai tenggelam lalu berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!” Yesus pun mengulurkan tangan-Nya dan menasihati Petrus. Ibarat para murid yang serempak mengeja kata di ruang kelas, begitulah kelompok para murid masih harus belajar untuk mampu berpasrah dan yakin pada sang Guru. Ke-pe-de-an ternyata sering terjadi karena terlalu percaya akan pandangan, penilaian dan kemampuan sepihak. Ke-pe-de-an bisa jadi adalah usaha untuk menutupi ketidakmampuan berpasrah dan menjadi hambatan untuk  menjadi objektif melihat sesuatu dan juga hambatan dalam beriman. Sikap demikian bisa jadi godaan orang beriman saat ini. Mengakui Allah sebagai penguasa tetapi keyakinan pribadi menjadi topeng dan benteng pertahanan yang rapuh. Cepat atau lambat, itu akan membuat tenggelam. Sok kuat padahal rapuh adalah godaan generasi rebahan dan juga siapa saja yang ke-pe-de-an. Marilah kita berdoa: “Tuhan, kami bukan siapa-siapa tanpa Dikau”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply