Renungan

Bijaksana dalam Kebodohan

 190 total views,  2 views today

Jumat, 28 Agustus 2020 : Peringatan Wajib St. Agustinus, 1 Kor 1:17-25, Mat 25:1-13

Belum lama ini saya mendengar cerita seorang teman tentang ternak ikan Lelenya. Ikan Lele yang telah dipeliharanya sekian bulan dan direncanakan akan panen bulan ini ternyata mati mendadak. Modalnya saja pun tidak kembali. Dia mengatakan bahwa ini adalah pengalaman rugi yang sangat membuatnya terpuruk secara finansial. Tidak tanggung-tanggung memang modalnya. Menurutnya, seandainya berhasil maka ia akan membeli ini dan membeli itu, merencanakan ini dan merencanakan itu. Tetapi, justru di situlah ketimpangan menurutku. Dia tidak mempertimbangkan resiko. Dia membayangkan hanya seandainya beruntung dan semuanya baik-baik. Kemampuan membayangkan memang adalah kemampuan manusia. Namun, sering bayangan yang terlalu jauh dan bayangan yang selalu baik semuanya membuat manusia tidak mampu menerima kenyataan dan situasi aktual. Akibatnya, bisa putus atas, merasa terpuruk dan ingin melarikan diri dari kenyataan.

Dalam Injil hari ini disampaikan pengajaran Yesus tentang Kerajaan Allah dengan menggunakan perumpamaan, yakni tentang sepuluh gadis yang mengambil pelitanya. Mereka bertugas menyongsong pengantin. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Yang bodoh membawa pelita, tetapi tidak membawa minyak. Sedangkan yang bijaksana, selain pelita juga membawa minyak dalam buli-bulinya. Ternyata pengantin lama tidak datang-datang, mengantuklah mereka semua, lalu tertidur. Ketika terdengar suara orang berseru bahwa pengantin datang, gadis-gadis itu bersiap dan membereskan pelitanya. Yang bodoh tahu bahwa pelitanya hampir padam. Karena itu, mereka meminta minyak kepada yang bijaksana. Yang bijaksana tidak memberi, maka yang bodoh pergi membeli. Saat gadis yang bodoh itu pulang datang dari tempat membeli minyak pintu sudah ditutup. Mereka memohon agar dibukakan pintu tetapi tuan pesta berkata bahwa ia tidak mengenal mereka. Ada banyak kejadian dan peristiwa dalam hidup ini karena kebodohan. Salah satunya kebodohan itu ialah memastikan yang tidak pasti. Bahkan, kita pun memastikan semuanya baik berdasarkan bayangan, bukan berdasarkan keterbukaan menerima kenyataan. Bahkan, doa kita pun sering bukan lagi penyerahan pada peran Tuhan melainkan pemaksaan kehendak diri sendiri. Dimanakah peranan Tuhan? Marilah kita berdoa: “Tuhan, semoga kami selalu terbuka pada rancangan-Mu”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

 

Leave a Reply