Mp3

Beriman Tangguh

 260 total views,  2 views today

Rabu, 05 Agustus 2020 : Yer 31:1-7, Mat 15:21-28

Pada 29 Juli 2020 lalu meninggal seorang sastrawan, penulis dan budayawan. Hati saya terkesan dengan gelarnya sebagai budayawan, yakni Ajip Rosidi. Beliau juga mendirikan Yayasan Kebudayaan Rancage. Melalui yayasan tersebut, beliau memberi apresiasi kepada para pelestari budaya. Dengan demikian, kebudayaan khususnya bahasa-bahasa daerah yang ada di nusantara dilestarikan agar tidak punah. Bahasa-bahasa daerah di nusantara saat ini memang mencemaskan eksistensinya. Sebab, dari sekian bahasa ibu yang ada di nusantara, beberapa sudah tinggal menunggu waktu akan punah. Ajip Rosidi menjadi sosok yang menyejukkan di tengah krisis bahasa dan sastra daerah sehingga beliau menjadi oase bagi para pelestari budaya, khususnya pelestari bahasa daerah. Menariknya, beliau mampu melampaui batas-batas eksklusivisme, sehingga terbuka dan terketuk hatinya juga untuk menghargai para penggiat budaya yang beraneka ragam dalam bingkai NKRI. Perbedaan menjadi kekayaan kita sebangsa dan setanah air.

Dalam Injil hari ini dikisahkan perjumpaan Yesus dengan seorang wanita Kanaan. Wanita itu berseru: “Kasihanilah aku, ya Tuhan,  Anak Daud.  Anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” Tetapi, Yesus sama sekali tidak menjawab. Murid-murid Yesus pun gelisah dengan sikap wanita itu. Maka, mereka mendesak Yesus agar mengusir wanita itu. Kemudian, Yesus berkata kepada wanita itu: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Bukannya menghindar, wanita itu malah mendekat dan menyembah Yesus sambil berkata: “Tuhan, tolonglah aku.” Nada jawaban Yesus makin naik, kasar. “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Sangat kasar bukan?  Wanita itu disejajarkan dengan anjing yang menunggu remah-remah dari sang tuan. Wanita itu berkata lagi: “Benar Tuhan, tetapi anjing-anjing pun makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Wanita ini tampaknya tidak malu atau merasa terpojok karena dicap sebagai orang luar yang tidak mendapatkan bagian dalam perjamuan di meja Tuhan, apalagi digunakan kepadanya cap atau label yang tak lumrah, sebagai anjing. Namun, kata-kata Yesus menjadi puncak proses dialog yang hidup dan alot ini “Hai ibu, besar imanmu!  Terjadilah bagimu seperti yang kaukehendaki.” Anaknya sembuh. Kisah ini menginspirasi umat beriman dalam perjalanan hidup rohani di dunia. Ternyata cap tidak seberapa penting bagi orang yang beriman sungguh dan tangguh. Entah kafir atau apa pun cap yang diberikan kepada siapa pun, nggak ngefek kalau hati kita tetap mengakui bahwa Allah adalah Bapa bagi semua orang. Pengakuan kita akan kehadiran Bapa yang senantiasa merangkul kita akan memampukan kita setia dalam dinamika hidup kita yang sering merasa bahwa doa kita tidak terkabul, dan bahkan merasa tertipu. Wanita Kanaan yang dikisahkan dalam injil hari ini menjadi figur beriman tangguh dan mempertanggungjawabkan imannya dengan sungguh dan tangguh. Cap dan label bukan yang utama, beriman lebih dari sekadar ber- KTP. Marilah kita berdoa: “Bapa, ajarilah kami untuk mempertanggungjawabkan iman melalui pengakuan bahwa Engkau adalah Bapa kami dan kami semua adalah anak-anak-Mu walaupun kami berbeda-beda”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply