Renungan

Tunduk Pada Kebaikan

 220 total views,  2 views today

Selasa, 28 Juli 2020 : Yer 14:17-22, Mat 13:36-43

Orang beriman sering berusaha sebaik mungkin melakukan yang baik dan sesedikit mungkin melakukan kesalahan dibarengi dengan cita-cita agar kelak masuk surga. Tentu, menurut keyakinan kakekku yang berdasar pada Kitab Suci, diceritakan bahwa manusia sebelum masuk surga akan dicek. Kayak mengecek orang dengan pakai Thermo Gun githu ya? Itulah yang disebut penghakiman terakhir. Sampai di situ masih jelas bagiku keterangan biblis ini. Tetapi, bagaimana menimbang,  memperhatikan dan memutuskan untuk memasukkan seseorang masuk surga, ya nggak tahulah. Bukan ranahku juga. Kalau ada orang yang memastikan bahwa yang begini masuk surga dan begitu masuk neraka, berarti ia sedang mengambil alih tugas Hakim Agung di penghakiman terakhir. Karena, beriman tidak sesederhana itu. Beriman bukan hanya mengoptimalkan pembicaraan tentang surga. Bukankah kalau kita semakin banyak berbicara tentang surga yang disediakan pada waktu yang akan datang membuat kita kehilangan surga pada masa kini? Eeeeyaaa….  Surga masa kini gimana ya pastor? Yuk marilah kita dalami Injil hari ini.

Dalam Injil hari ini, Yesus menjelaskan perumpamaan tentang lalang di ladang. Orang yang menaburkan benih yang baik adalah Anak Manusia yakni Tuhan Yesus Kristus. Ladang itu ialah dunia. Benih yang baik adalah anak-anak Kerajaan. Lalang adalah anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang adalah iblis. Sudah sejak awal mula, Allah tidak pernah menciptakan manusia sebagai manusia si buruk rupa atau si buruk sikap, si munafik, dan si jahat. Allah senantiasa membagikan kebaikan-Nya kepada manusia. Namun, orientasi setiap manusia membuat kepribadian setiap orang beriman menjadi berbeda. Perbedaan itu melahirkan sikap. Anehnya, orang yang merasa diri beriman sering merasa diri gandum dan menuduh orang lain sebagai lalang. Padahal, justru karena Allah tahu betapa ribetnya hidup menjadi manusia benar maka Allah mengutus Anak-Nya ke tengah-tengah dunia, agar setiap orang mengarahkan hidupnya pada Manusia yang benar itu, yakni Yesus Kristus. Yesus Kristus yang kita imani adalah Allah yang berusaha memupuk dan menyuburkan gandum dengan darah-Nya yang tercurah di salib. Bagi orang beriman, tak ada jalan lain untuk menyuburkan hidup kita selain ikut serta dalam jalan Yesus entah tegangan apa pun yang terjadi, bahkan tarikan kuat si iblis membuat hidup meronta dan merana. Itulah surga bagi orang beriman. Marilah kita berdoa: “Ya Allah, semoga kami selalu terbuka pada tuntunan Roh-Mu agar kami tidak tunduk pada kejahatan”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply