Renungan

Terbuka terhadap Kebenaran

 369 total views,  3 views today

Sabtu, 18 Juli 2020 : Mi 2:1-5, Mat 12:14-21

Kegigihan seseorang untuk mewujudkan tekad pasti dibarengi oleh keyakinan. Tetapi, keyakinan tidak pernah lepas dari pertimbangan akal budi. Saya memilih A atau memilih B, pasti karena saya memiliki pertimbangan akal budi tentang si A atau si B. Bukan hanya karena saya yakin kalau saya memilih A maka akan begini,  atau kalau memilih si B akan begitu. Kalau seseorang hanya bermodalkan keyakinan tanpa penalaran, itu namanya nekad. Kalau saya memilih jalan hidup seperti ini, ya mestinya saya pertimbangkan dengan akal budi mengapa saya memilih jalan hidup yang begini. Tentu, akal budi memiliki keterbatasan tetapi sekaligus menjadi dasar keyakinan. Itupun, masih tetap terbatas dan karena itu keyakinan bisa salah. Maka, keterbukaan akal budi senantiasa terhadap setiap kenyataan dan pengalaman mutlak perlu. Sikap demikian menjadi alat penentu untuk bersikap adil dan mampu memilih sesuatu di antara banyak pilihan. Kalau saya mau jadi militan sebagai orang Kristen, mestinya saya harus terbuka kepada orang-orang yang bukan Kristen. Karena, tanpa pernah berjumpa dengan orang-orang di luar Kristen, saya akan kesulitan menemukan kekhasan kekristenan dan kekhasan yang bukan Kristen. Akhirnya, alasan untuk militan pun menjadi rapuh. Militansi terhadap pilihanku  bukan kebutaan terhadap di luar pilihanku, melainkan keyakinan yang berdasar karena keterbukaan akal budi terhadap pilihan-pilihan yang ada, sehingga saya mampu menetapkan pilihan. Maka, kualitas pilihan berelasi erat dengan kualitas berpikir.

Dalam Injil hari ini, dikisahkan tentang orang-orang Farisi yang bersekongkol untuk membunuh Yesus. Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka, lalu menyingkir dari sana. Sangat menarik mendalami kalimat ini. Yesus mengetahui maksud mereka, lalu menyingkir dari sana. Yesus tahu betul siapa itu orang-orang Farisi tetapi orang-orang Farisi tidak tahu siapa itu Yesus. Orang-orang Farisi tidak mengenal Yesus tapi nekad mau membunuh Yesus. Nekad kan? Alasannya untuk membunuh apa?  Alasannya untuk membully apa?  Alasannya untuk memburuk-burukkan apa?  Dengan mudah Yesus mengetahui maksud orang-orang Farisi. Karena itu, Yesus mudah menyingkir dari sana. Setiap orang beriman diajak oleh Yesus untuk mengetahui maksud orang-orang yang tidak seide, yang tidak sepaham dengan kita. Hanya dengan mau terbuka kepada mereka, kita mampu mengetahui maksud mereka dan akhirnya kita mampu memilih sikap yang tepat. Keterbukaan terhadap sesama adalah pertanggungjawaban orang-orang yang memiliki akal budi untuk melihat kenyataan. Dengan akal budi, orang mampu membedakan dan memilah hingga menentukan pilihan yang tepat. Itu pula alasan kita untuk militan terhadap pilihan kita. Tanpa itu, kita sedang menambah jumlah orang-orang Farisi yang mau membunuh Yesus dan kebenaran-Nya. Marilah kita berdoa: “Tuhan, semoga kami tidak gampang terlanjur mempersalahkan orang lain agar kami tidak mudah tertutup terhadap kebenaran”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply