Renungan

Memaknai Kenyataan

 279 total views,  2 views today

Rabu, 15 Juli 2020 Pw. St. Bonaventura : Yes 10:5-7. 13-16, Mat 11:25-27

Masyarakat di negara kita akhir-akhir ini dibingungkan oleh berita tentang seorang buronan. Menurutku, berita ini sangat lucu. Sekali lagi, sangat lucu! Saya tidak tahu apakah kebingungan ini memang alamiah atau memang kebingungan ini adalah kebingungan yang diciptakan. Kalaulah kebingungan ini sengaja diciptakan, entah siapa pelaku yang menciptakan kebingungan ini tidak terlalu jelas juga. Tujuan kebingungan ini pun diciptakan tak terlalu jelas. Saya sebut lucu karena seseorang yang telah disebut buronan dan bahkan namanya sempat masuk dalam daftar pencarian orang dan interpol, eh malah katanya bisa melanggeng dibantu oleh kuasa hukumnya untuk mendatangi sejumlah kantor pemerintahan untuk mengurus KTP elektronik, paspor dan kemudian mendaftarkan PK di negeri tercinta ini. Lucu nggak?  Apakah ini buronan ecek-ecek yang sedang membuat film tontonan hiburan yang tak lucu di tengah Pandemi ini? Ah, nggak tahulah! Yang pasti, konsep yang merupakan ciptaan otak seseorang, entah sepintar apa pun orangnya, bisa tak nyambung dengan kenyataan yang sebenarnya kalau konsep dirancang untuk menutupi kebenaran. Tentunya, konsep yang demikian hanya bisa dicipta oleh orang-orang yang disebut kaum berpikir, kaum terpelajar, kaum brilian. Korbannya adalah orang-orang sedehana, orang tulus dan polos, yang hanya bisa manggut-manggut melihat skenario konsep rekayasa.

Dalam Injil hari ini, Yesus berkata: “Aku bersyukur kepada-Mu, ya Bapa, Tuhan langit dan bumi!  Sebab semuanya itu Kausembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Kaunyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan di hati-Mu.” Kata-kata Yesus ini bukanlah tamparan bagi orang yang telah mendapatkan banyak pengetahuan atau pun orang yang telah menempuh pendidikan tertinggi hingga mendapat gelar yang pantas karena pengetahuannya. Yang disasar oleh Yesus ialah orang-orang yang tidak mampu melihat kenyataan dan tidak mampu memaknai kenyataan. Ketidakmampuan melihat kenyataan sering disebabkan oleh konsep dan dalil yang dirancang untuk merekayasa. Orang demikian sulit terbuka dan terhubung pada Allah dan dunia ciptaan-Nya. Sementara orang kecil, tentu maksudnya bukan orang yang kekanak-kanakan, melainkan orang-orang yang senantiasa melakukan upaya pencarian kebenaran dan mengusahakan agar konsep dan dalil yang diciptakan oleh otak manusia selalu terhubung pada Allah dan kenyataan yang sebenarnya. Karena itulah, setiap pengalaman dan realita memiliki makna. Puncaknya, orang beriman meyakini bahwa seluruh pengalaman hidup hendaknya mendapat pembobotan dan pemaknaan di hadapan Tuhan. Itulah hidup yang bermakna. Tanpa keterhubungan dengan Allah, manusia akan pandai merekayasa dan mengibuli diri sendiri yang akhirnya jauh dari bermakna. Marilah kita berdoa: “Tuhan, semoga kami senantiasa semakin menyelami kehadiran-Mu untuk menemukan makna setiap kenyataan hidup kami”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply