Renungan

Keterbukaan

 360 total views,  2 views today

Selasa, 07 Juli 2020 : Hos 8:4-7. 11-13, Mat 9:32-38

Satu fakta bisa diamati oleh beberapa orang menurut sudut pandang yang berbeda. Berdasarkan sudut pandang itu pula, seseorang menilai dan memutuskan sesuatu. Di sinilah perlunya sumbangan ilmu pengetahuan dalam menganalisis sesuatu dan kemudian mengambil sikap yang bijak terhadap sesuatu atau seseorang. Sungguh anehlah kalau saya membenci seseorang tapi saya tidak tahu mengapa saya bersikap seperti itu. Makin aneh lagi, kalau saya menilai sesuatu dan memutuskan sesuatu tanpa keterbukaan untuk melihat kenyataan yang sebenarnya. Keterbukaan itu bisa diwujudkan melalui diskusi atau pun dengan alat bantu ilmu pengetahuan akademis atau pengetahuan natural. Namun, tak jarang juga kita menemukan bahwa penilaian seseorang terhadap sesuatu sering tak beralasan atau tak berdasar. Atau, kalau pun menilai, tolak ukur yang saya pakai adalah sudut pandang kepentingan pribadi yang berpuncak pada suka atau tidak suka. Akan sulit berdiskusi dengan orang seperti itu karena tidak mampu out of the box. Orang seperti itu memutlakkan kebenaran yang sudah diyakininya sendiri.

Dalam Injil hari ini, Yesus membuat penyembuhan. Seorang bisu yang kerasukan setan dibawa kepada Yesus. Setelah setan diusir, orang bisu itu dapat berbicara. Saya bertanya-tanya, apa bedanya orang bisu yang kerasukan setan dan orang bisu yang sejak lahir memang sudah bisu?  Saya teringat dengan kata-kata dosen saya dulu bahwa berbicara tidak selalu dengan kata-kata yang keluar dari mulut. Barangkali saat itu sudah muncul lagu “Saat hati yang bicara”. Ha ha ha. Nah, orang yang bisu sejak lahir, bisa saja hatinya tidak ikut bisu. Tapi, kalau bisu karena kerasukan setan, ya seluruh dirinya memang kesetanan dan karena itu bicaranya pun bicaranya setanlah. Saya sendiri nggak ngerti gimana itu bicaranya setan. Yang pasti, tidak manusiawi. Yesus memulihkan si bisu yang kerasukan setan itu dan kemudian bisa berbicara. Berbicara berarti mengadakan kontak, relasi dan pengungkapan diri satu sama lain. Orang tentu takjub, heran melihat apa yang dibuat oleh Yesus. Heran adalah lukisan untuk orang yang tak sanggup lagi melukiskan betapa dahsyatnya pengalaman perjumpaan dengan Allah. Kata-kata tidak sanggup menerangkannya dengan tuntas dan sempurna. Anehnya, orang-orang Farisi tidak mampu melihat itu. Mereka justru melihat tindakan Yesus sebagai tindakan penghulu setan. Lagi dan lagi, kesetanan dalam diri orang Farisi tak tersembuhkan karena mereka mengunci diri terhadap kebaikan yang hadir di tengah-tengah mereka. Kebaikan sudah bersinar tetapi orang-orang yang menutup matanya terhadap kebaikan tetaplah dunia mereka berada dalam kegelapan. Marilah kita berdoa: “Tuhan, kuatkan kami berjuang dari kegelapan menuju terang”.

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply