Renungan

Kerajaan Allah

 319 total views,  2 views today

Senin, 27 Juli 2020 : Yer 13:1-11, Mat 13:31-35

Orang yang menghargai proses tidak akan pernah mengutuki tantangan dan kesulitan, entah itu berasal dari diri maupun dari luar diri. Langkah demi langkah menyusuri tahapan demi tahapan. Ada saatnya jatuh, ada saatnya bangkit, gembira, sedih dan sebagainya. Itu semua menjadi pernak-pernik kehidupan. Tetapi, mana ada yang hidupnya cuma berputar-putar saja? Hidup bukan pengulangan. Hidup adalah proses perjalanan walaupun sering terjadi tindakan yang sama, bahkan kesalahan terulang dan kegagalan muncul lagi. Namun, pemaknaan terhadap setiap pengalaman menjadi alasan utama bagi setiap orang untuk mengatakan bahwa hidup bukan pengulangan, melainkan proses karena setiap pengalaman punya makna dan berdaya yang berpengaruh dalam perjalanan selanjutnya.

Dalam Injil hari ini, Yesus mengajarkan Kerajaan Allah dengan memakai perumpamaan. Pertama, perumpamaan dengan memakai biji sesawi, benih yang paling kecil di antara benih yang ada. Kedua, perumpamaan dengan memakai ragi. Yang mau disasar ialah agar setiap orang beriman memahami Kerajaan Allah itu bukan hanya soal nanti, kelak atau setelah mati. Kerajaan Allah juga hadir di sini dan sekarang ini.  Maka, perlu diupayakan. Prosesnya mulai dari hal-hal kecil. Karena itu, Kerajaan Allah bukan hanya khayalan. Dengan perumpamaan ini harus dielakkan juga pemaksaan dan keseragamaan semua umat beriman dalam menumbuhkan benih itu. Memang kita sadar bahwa banyak persamaan kita sebagai orang beriman, ajaran, ritus dan cara ibadat kita serta hal-hal lainnya. Tetapi, yang utama ialah bagaimana setiap pribadi, keluarga, masyarakat, kelompok, partai, organisasi bebas menumbuhkan benih kebaikan yang sudah dianugerahkan Tuhan dalam diri manusia agar semakin dinikmati orang sebagai pertumbuhan dan kemajuan hubungan-Nya dengan Tuhan. Penegasannya bukan memaksakan harus begini atau harus begitu, melainkan bagaimana caranya agar setiap orang mengalami kebebasan yang terarah untuk berproses  menumbuhkan kebaikan Allah. Dalam diri setiap orang beriman ada benih Kerajaan Allah dan hanya kalau kita berusaha bekerjasama dengan Allah menumbuhkan benih itu boleh kita menikmati Kerajaan Allah. Tanpa itu, kita hanya membangun kerajaan lanteung alias palsu. Marilah kita berdoa: “Tuhan, semoga benih Kerajaan-Mu kami rawat dan kami suburkan agar kami semakin menikmati hidup bersama dalam Dikau”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply