Renungan

Kebersamaan

 225 total views,  2 views today

Kamis, 16 Juli 2020 : Yes 26:7-9. 12. 16-19, Mat 11:28-30

Tidak ada yang salah  kalau orang memiliki cita-cita. Mau jadi bupati, mau jadi kaya, mau jadi orang nomor satu pada institusi tertentu, dan mau jadi apa lagi sah-sah saja selagi ada hasrat dan keinginan untuk mengaktualisasikan diri. Yang salah ialah kalau jalan yang ditempuhnya tidak terhubung dengan cita-citanya. Atau, kalau pun terhubung, sebenarnya karena dipaksakan agar terhubung. Misalnya, ingin jadi orang terkenal sebagai orang benar maka dicarilah cara untuk memburukkan orang lain. Ingin jadi orang visioner, maka dicaplah orang lain sebagai orang lamban. Mau jadi orang kaya, ya dicarilah cara untuk memiskinkan orang lain. Mau jadi orang nomor satu di sebuah institusi, dicarilah cara untuk membongkar keburukan yang lain. Nggak nyambung kan? Saya pastikan bahwa orang yang meraih cita-citanya dengan cara-cara seperti itu, akan secepatnya luluh-lantah sekurang-kurangnya mendapat caci maki dari orang-orang yang merasa sebagai korban itu. Saya tidak berani mengatakan kutukan seperti teman saya waktu SD yang selalu suka mengatakan terkutuk kalau terganggu kenyamanannya karena keusilan teman-temannya. Lebih sreg saya mengatakan caci maki.

Dalam Injil hari ini, Yesus berkata: “Datanglah kepada-Ku, kalian semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Kata-kata Yesus ini selain undangan bagi umat beriman, kita semua disadarkan bahwa kita semua adalah seperjalanan dalam hidup di dunia. Itu ditegaskan oleh Yesus dengan berkata: “Datanglah kalian semua.” Sangat anehlah rasanya ketika kita berjalan bersama tetapi orientasi kita adalah keburukan sesama. Orang yang memiliki hobby berjalan petualang akan sangat menghargai kehadiran sesama sebagai pendukung dalam perjalanan agar tiba pada tujuan. Sebab, keterasingan dan kesendirian dalam berjalan akan membuat banyak kesulitan. Berjalan bersama juga tentu memiliki tantangan. Namun, selagi tantangan ini muncul karena kita berorientasi untuk menjaga kebersamaan dalam perjalanan, selama itu pulalah kita mengalami ketenangan sebagaimana dijanjikan Yesus sang Guru dari Nazaret. Tanpa menyadari kehadiran sesama sebagai teman seperjalanan di dunia ini, selama itu pulalah kita was-was, cemas, merasa dikejar-kejar walaupun berusaha tegar dengan cara memburuk-burukkan orang lain. Marilah kita berdoa: “Tuhan, kami syukuri kehadiran-Mu dalam diri sesama kami”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply