Renungan

Rahmat Panggilan

 214 total views,  3 views today

Kamis, 30 Juli 2020 : Yer 18:1-6, Mat 13:47-53

Seorang bijak berkata: “Jangan pernah membanting pintu.”  Ungkapan tersebut hendak mengajak setiap orang agar mampu mengendalikan perasaan saat terjadi perbedaan pemahaman, perbedaan pilihan, perbedaan sikap, dan aneka perbedaan lagi. Kalaupun perbedaan sering menimbulkan konflik, manusia memiliki kemampuan untuk mengontrol hidupnya dalam berelasi dalam sesamanya. Janganlah hal-hal yang negatif mendominasi hati. Jurang perbedaan bukan akhir dari perjalanan panjang relasi yang telah dibangun. Maka, setiap orang harus sadar bahwa jiwa manusia memiliki kerinduan untuk bertemu kembali dengan belahan jiwanya, yakni sesama manusia. Sebab, manusia adalah mahkluk sosial-religius. Suatu ketika manusia akan pulang kembali melalui pintu pertemuan dengan sesamanya. Nah, kalau pintunya udah rusak buanget gimana ya?  Relasinya jadi ambyar githu?  Ya iya dong, tak ada jalan lain selain memperbaiki pintu dulu. Berarti, proses untuk rujukan butuh waktu yang lebih lama ya. Bahkan, kalau pintunya gak bakalan baik karena saking ruwetnya kerusakannya, yah gak terbayangkan lagi gimana jadinya merajut relasi. Kakekku berkata dalam bahasa Ibu: “Unang masalpuhu mandok hata, asa mura ulanghonon muse.” Artinya, jangan terlalu berlebihan mengucapkan kata-kata yang mencederai relasi supaya mudah memulihkan. Yeeeaaa… Punya pengalaman kali ya? So, pasti dech.

Dalam Injil hari ini Yesus melanjutkan pengajaran tentang Kerajaan Allah dengan memakai perumpamaan tentang pukat yang dilabuhkan di laut kemudian pukat penuh dengan ikan, lalu diseretlah pukat itu ke pantai. Dengan itu ditegaskan bahwa semua orang beriman berkumpul dikarenakan panggilan Ilahi, karunia Allah yang mempersatukan manusia. Allah yang berinisiatif memanggil, mengumpulkan dan menentukan balasan terhadap masing-masing umat beriman. Bagi kita, yang perlu ialah bagaimana menjaga kebersamaan kita dalam pukat Allah yang dilambangkan dengan Gereja, Kongregasi, Ordo, Organisasi, Keluarga dan entah perkumpulan apa pun namanya agar menjadi tanda kehadiran Kerajaan Allah. Setiap orang diterima dan diperhitungkan sebagai bagian dari Kerajaan Allah, karena itu setiap orang pula harus berpartisipasi melestarikan pukat itu agar tidak robek, sehingga anggota-anggota tidak tercerai berai. Harus kita akui bahwa godaan umat beriman adalah menuduh orang lain sebagai ikan yang buruk dan menganggap diri sendiri sebagai ikan yang baik. Sikap seperti itu akan menciptakan pukat sebagai tempat yang menggelisahkan. Padahal, Tuhan sendirilah yang menentukan entah yang ini adalah ikan yang baik dan yang itu adalah ikan yang buruk. Karena itu, janganlah membanting pintu, sebab kita selalu rindu untuk bersekutu dengan sesama dalam Tuhan. Kita semua dipanggil oleh Allah yang satu dan sama agar kita bersama-sama mewujudkan Kerajaan-Nya di dunia yang fana ini. Sulit memang dan bahkan ada saatnya kita merasa hampir tidak mungkin terjadi. Tetapi, itulah kehendak Tuhan yang memanggil kita. Marilah kita berdoa: “Tuhan, kami bersyukur karena rahmat panggilan-Mu yang mempersatukan kami”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply