Renungan

Bukan Jabatan Tapi Tugas

 374 total views,  3 views today

Sabtu, 25 Juli 2020 : Pesta St. Yakobus, 2 Kor 4:7-15, Mat 20:20-28

Kemarin telah saya paparkan tentang keriuhan kue Klepon. Kue Klepon nggak ada memang salahnya. Seorang teman romo mengungkapkan curahan hatinya tentang kue Klepon saat beliau masih frater doyan amat makan kue itu. Ya, tapi begitulah. Ternyata ada yang memanfaatkan kue Klepon untuk mempromosikan yang tak layak dipromosikan. Saya belum pernah jumpa promotornya. Memang kalau ideologi pribadi/kelompok dikawinkan dengan ego pribadi/sektoral lahirlah fanatisme buta. Pencarian kebenaran hanyalah kamuflase. Sialnya, orang kita pun terlalu mudah menyematkan gelar. Sehingga, kadang membingungkan mana yang sejati, mana yang palsu. Karena begitu gampang menyematkan gelar pahlawan terhadap orang tertentu, tak mudah lagi memastikan yang mana pahlawan benaran dan yang mana pahlawan gadungan. Itu bisa terjadi karena perasaan menjadi dominan sehingga irasionalitas menyumbang kerunyaman untuk hidup bersama. Atau jangan-jangan kata-kata yang terlalu mudah diobral adalah efek dari halusinasi ambisi dan keinginan. Kalau demikian, kata-kata tak berarti apa pun selain pembungkus ideologi kusam yang retak.

Hari ini, kita merayakan Pesta Santo Yakobus, Rasul. Ia adalah salah seorang rasul dari dua belas rasul yang merupakan kelompok inti dalam hidup dan karya Yesus. Dalam Injil hari ini dikisahkan tentang permintaan ibu Zebedeus. Ibu Zebedeus meminta kepada Yesus: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini kelak boleh duduk di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu, dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” Permintaan ini sangat manusiawi dan permintaan seperti ini masih hidup pada jaman sekarang ini. Siapa yang tidak mau duduk pada posisi atau jabatan strategis, apalagi dekat dengan orang nomor satu?  Kalau bisa nomor satu, kenapa harus nomor dua? Atau kalau bisa saya, kenapa malah dia? Emang apa kelebihan dia dari saya?  Dia punya massa nggak? Pertanyaan-pertanyaan ini saya yakin masih hidup di tengah-tengah kita. Tidak salah memiliki hasrat untuk memimpin. Tetapi, sangatlah konyol kalau hasrat ini dipakai untuk menguasai. Ada perbedaan antara memimpin dan menguasai. Ibu Zebedeus meminta kuasa bagi kedua anaknya. Bisa saja ibunya ini cuma diperalat oleh kedua anaknya untuk memuluskan jalan pintas menuju kedudukan. Berbeda dengan permintaan itu, Yesus mengajarkan cara memimpin. Kalau ibu Zebedeus memintakan kedua anaknya untuk duduk, berarti meminta power yang terletak pada jabatan otoritas. Sementara itu, Yesus menawarkan kepemimpinan dengan cara melayani, blusukan mungkin ya?  Bisa jadi!  Tapi, lebih dari itu, Yesus menegaskan agar setiap orang beriman mampu melampaui batas-batas ideologi pribadi/sektoral untuk membangun universalitas cinta. Konsep pelayanan seperti itu tidak peduli dengan gelar, apalagi kalau gelar bukan gelar otentik. Bukan pahlawan gampangan atau pahlawan gadungan. Utamanya adalah membangun kehidupan bersama dengan cara melayani dan bukan menguasai. Isinya adalah cita-cita untuk merangkul semakin banyak orang untuk mengalami kebaikan Allah dan tak pernah surut mengusahakannya meskipun disudutkan atau dicap gagal oleh pahlawan gadungan. Marilah kita berdoa: “Tuhan, semoga kami mampu jernih melihat kehendak-Mu dan terdorong mengikutinya sehingga tidak cengeng dan jahat mempertahankan ideologi pribadi/sektoral”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply