Renungan

Aturan dan Akal Budi

 271 total views,  2 views today

Jumat, 17 Juli 2020 : Yes 38:1-6. 21-22. 7-8, Mat 12:1-8

Sikap disiplin merupakan cara untuk mencapai tujuan. Karena itu, tolak ukur kedisiplinan tidak hanya berhenti pada taat buta terhadap aturan, tetapi harus sampai pada tujuan yang mau dicapai. Pemain sepak bola disebut berhasil kalau pemain tersebut berusaha menggiring bola dan dengan lihai menjaga bola dari rebutan lawan seturut aturan permainan dan akhirnya memasukkan bola ke dalam gawang lawan. Tujuannya memasukkan bola ke gawang lawan. Untuk sampai pada goal ada aturan permainannya. Tidak boleh pakai tangan, perhatikan offside, dan sejumlah aturan lainnya. Memasukkan bola ke gawang lawan tanpa menaati aturan berarti tidak sah. Pelanggaran!  Kalau orang menaati aturan mulai bangun pagi hingga tidur di malam hari, tentu tujuannya bukan untuk melaksanakan aturan-aturan itu secara runtut dari kegiatan yang satu ke kegiatan berikutnya, melainkan supaya fokus pada tujuan. Tujuan itulah target yang mau dicapai. Tak ada orang mencapai target dengan hanya senyum kemudian duduk dan kemudian senyum lagi hanya membayangkan cita-cita. Perlu usaha dan aturan yang menuntut sikap disiplin agar sampai pada cita-cita. Karena itu, perlu evaluasi untuk meneliti apakah aturan memang sungguh mempermudah kita sampai pada tujuan atau malah membuat arah kita melenceng dari tujuan.  Pemahaman ini berlaku untuk semua instansi, mulai dari keluarga hingga organisasi besar.

Dalam Injil hari ini, dikisahkan bahwa orang-orang Farisi menegur Yesus dengan berkata: “Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.” Bagi orang Farisi, hari Sabat nggak boleh bekerja. Memetik gandum dikategorikan juga sebagai pekerjaan. Waktu itu para murid Yesus sudah lapar. Yah, sangat masuk akal kan?  Mana ada orang yang mau berlama-lama merasakan lapar padahal ada sumber pangan di sekitarnya? Tidak ada! Tuhan menganugerahkan akal budi kepada manusia agar berusaha mengelola sumber pangan yang ada di sekitarnya agar pangan tercukupi untuk manusia. Pangan tercukupi merupakan kategori utama masyarakat sejahtera. Menanggapi teguran orang-orang Farisi, Yesus mengingatkan mereka tentang kisah ketika Daud dan para pengikutnya lapar. Mereka masuk bait Allah dan mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam. Yesus berkata: “Seandainya kalian memahami maksud sabda ini, Yang kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kalian tidak akan menghukum orang yang tidak bersalah.” Saya langsung teringat akan kenakalan waktu menggembalakan Kerbau saat lapar mengambil ubi, jagung, atau apalah yang bisa dijadikan sebagai makanan dari ladang terdekat. Umumnya pemilik ladang maklum dan memahami perilaku seperti itu. Yesus menegaskan agar semua orang berlaku bijaksana untuk menepati aturan. Kebijaksanaan itu tampak ketika aturan dipakai untuk mendatangkan kesejahteraan, keselamatan bersama,  bukan keselamatan sepihak. Di satu sisi aturan tidak boleh disepelekan, tetapi di sisi lain aturan tidak boleh melecehkan martabat manusia. Aturan disebut sebagai aturan kalau aturan membantu manusia untuk menjadi manusia yang berbelaskasih dan membangun damai dalam hidup bersama.

Marilah kita berdoa: “Tuhan, semoga kami tetap terbuka satu sama lain dalam membangun kehidupan bersama”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply