Renungan

Menabur Kebaikan

 221 total views,  2 views today

Jumat, 24 Juli 2020 : Yer 3:18-23, Mat 13:18-23

Keriuhan muncul lagi. Ini memang benar-benar lucu sebagai humor di tengah pandemi saat ini. Memang keriuhan ini berjalan lurus dengan aneka promosi di zaman teknologi canggih ini. Promosi dan pencarian popularitas menjadi life style. Tentu, promosi adalah cara untuk menginspirasi banyak orang agar termotivasi untuk memilih tindakan yang tepat dan benar. Dengan demikian, kebaikan terwariskan turun-temurun untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Namun, anehnya di zaman teknologi ini, yang dipromosikan bukan hanya yang benar dan baik, tetapi juga yang yang bisa membuat kegaduhan pun turut dipromosikan. Kadang sulit kita temukan alasan sesuatu untuk dipromosikan, tetapi itulah yang terjadi dan akhirnya viral.  Kalau yang dipromosikan dan dipopulerkan adalah hal-hal yang membuat keriuhan atau kerunyaman gimana?  Misalnya, kue Klepon. Tentang kue Klepon akan sangat menginspirasi banyak orang kalau yang diberitakan tentang cara pembuatannya, asal-mula produksinya, bahkan filosofinya. Tapi kalau orang mempopulerkan kue Klepon untuk menaruh kegaduhan jadinya bagaimana? Nggak tahu deh! Promotornya yang begitu mungkin lagi ngigau kue Klepon di siang bolong.

Dalam Injil hari ini, Yesus menjelaskan arti perumpamaan tentang penabur yang menaburkan benih. Ada benih yang jatuh di tanah pinggir jalan, di tanah berbatu-batu, di tengah semak duri, dan tanah yang baik. Menurut keterangan Sang Guru dari Nazaret, benih itu adalah Sabda Tuhan. Penaburnya adalah Tuhan. Tanah tempat ditaburkan benih itu adalah orang-orang yang mendengarkan Sabda Tuhan. Dengan perumpamaan ini, Yesus menegaskan bahwa sejak awal mula, Allah telah rela membagikan kebaikan yang ada dalam diri Allah kepada manusia. Segala yang baik dan segala yang indah serta mulia ditaburkan Allah ke dalam diri manusia. Maka, kesadaran ini adalah dasar manusia untuk mempromosikan kebaikan dan membuat populer kebaikan itu kepada dunia sekitarnya. Hanya kalau manusia mengakui bahwa kebaikan dan kebenaran yang ada dalam dirinya berasal dari Tuhan maka manusia akan mampu mencari kebenaran dan menyuburkan hidupnya seturut Sabda Tuhan. Sebab, benih yang ditaburkan Allah dalam diri manusia rindu untuk bertemu dengan asal benih itu sendiri, yaitu Allah. Hasrat kerinduan selalu bergelora mencari belahan jiwa. Benih kebaikan yang ditaburkan dalam diri manusia selalu rindu bertemu dengan Allah yang adalah sumber benih itu. Karena itu, Sabda Tuhan menjadikan seseorang masuk ke dalam hidup yang lebih mendalam dan menyelami kebaikan-kebaikan Allah yang telah ditaburkan dalam dirinya. Dari kesadaran yang mendalam dan kerendahan hati serta pengakuan akan kebaikan Tuhan itulah juga seorang beriman mampu mempromosikan Sabda Tuhan sebagai buah dari hidupnya yang subur. Tanpa itu, promosi Sabda Tuhan akan tetaplah dangkal dan bisa menjadi asal mula kegaduhan karena ego manusia yang tak pernah sadar dan rendah hati tunduk kepada Pemilik kebaikan.  Orang demikian juga yang sering merasa diri sebagai Tuhan dan ngigau kue Klepon? Marilah kita berdoa: “Tuhan, kami bersyukur karena Engkau berbagi kebaikan dengan semua umat manusia,maka semoga kami berusaha mempromosikan kebaikan-Mu demi hidup bersama”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply