Renungan

Tuhan itu Bapa yang bagaimana sih?

 290 total views,  2 views today

Kamis Biasa XI/A: Sir 48:1-14, Mat 6:7-15
Bapak pasti tahu kebutuhan anaknya. Saya sendiri belum pernah menjadi bapak. Tetapi, setiap hari saya dipanggil sebagai bapak dengan bahasa yang berbeda dari bahasa negeri ini. Kata “Pater” dalam bahasa Latin adalah “bapak” dalam bahasa Indonesia. Mungkin karena Rooms Katholiek sudah akrab dari sononya dengan bahasa Latin maka panggilan Pater tetap dilestarikan sebagai panggilan bagi para imam di negeri ini, khususnya yang tinggal bersama para calon religius atau calon imam. Panggilan lainnya: romo, pastor, amang. Kadang disatukan menjadi amang pastor. Menjadi agak lucu lagi mendengar panggilan bapak pastor. Padahal, bapakku tidak pernah menjadi pastor 😁😁😁. Entah pastor, pater, romo, adalah panggilan bagi imam. Sementara kata “imam” merujuk pada identitas dan kodrat yang menerima Sakramen Tahbisan Imamat. Tentu, sebutan/julukan dan kodrat adalah dua konsep yang berbeda walaupun merujuk pada satu pribadi. Duh, buat pusing aja kepala barbie dengan kata-kata pater. Lebih baik mengajari lagu “Balonku ada Lima” kalau merasa diri bapak yang baik. Nah, sebelum ngawur, mari kita dalami Injil hari ini.
Dalam Injil hari ini, Yesus memperkenalkan Bapa yang tahu akan apa yang diperlukan anak-anak-Nya. Ya, iyalah! Namanya Bapa, ya mestinya tahu kebutuhan anak-anak-Nya. Tapi, lebih daripada itu, Yesus juga mau menegaskan bahwa Bapa begitu dekat dengan anak-anak-Nya, tetapi bukan menjadi Bapa yang kekanak-kanakan. Bapa tetaplah Bapa dengan segala misteri-Nya walaupun manusia memakai segudang bahasa untuk mengungkapkan perasaan, curahan hati, keluh kesah, permohonan, pujian dan persembahan, tetapi justru doa Bapa Kami diawali dengan kata dimuliakanlah nama-Mu. Betapa sering kita terkecoh dalam hidup beriman kita karena kesulitan membedakan yang mana sikap anak yang mengenal Bapa sebagai Bapa yang Mahatahu dan penuh misteri kekudusan, dan mana sikap anak yang memandang Bapa sebagai Bapa yang kekanak-kanakan. Tidak hanya berhenti di situ, pemahaman tentang Bapa yang kekanak-kanakan itu berlanjut pada usaha manusia untuk menggadaikan Bapanya. Konsekuensinya adalah konsep tentang Bapa yang kekanak-kanakan yang dipakai manusia itu justru menjadi gambaran manusia di hadapan Allah. Karena, tanpa menggambarkan Bapa dengan kata-kata manusia pun, dunia tidak bisa berbohong bahwa Allah adalah Bapa. Kalau kita memahamai Bapa adalah Mahatahu, maka kita pun akan tahu bahwa kita semua adalah anak-anak-Nya yang harus naik kelas tanpa dihadiahi lima balon. Biarlah hadiah itu milik orang yang kekanak-kanakan. Marilah kita berdoa: “Bapa, pengetahuan-Mu seluas segala kemahakuasaan-Mu atas bumi dan langit”
(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

 

Sumber Gambar: http://doa.sabda.org/kiat_mengajar_anakanak_berdoa

Leave a Reply