Renungan

Tuhan bagi semua orang

 372 total views,  2 views today

Jumat Biasa IX: 2 Tim 3:10-17, Mrk 12:35-37

Pada Tahun 2006 yang lalu, saya dengan teman-teman se-kelas mendapat kesempatan belajar bermisi ke daerah suku Talang Mamak di pedalaman Riau yang berbatasan dengan Jambi. Kehidupan mereka masih primitif. Hal itu tampak dari sistem pertanian mereka yang masih jauh dari peralatan teknologi pertanian. Dalam satu rumah tinggal beberapa keluarga. Banyak dari antara mereka tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Kepercayaan mereka masih mengikuti tradisi warisan leluhur. Organisasi kemasyarakatan mereka diatur dalam permusyawarahan. Aturan-aturan lisan yang menjadi pedoman dalam hidup bersama ditaati sebagai hasil kesepakatan. Kehadiran kami pertama-tama adalah mendengarkan dan melihat bahwa di tengah-tengah masyarakat itu banyak hal yang bisa dipelajari tentang kehidupan: budaya, religi/kepercayaan, dan sebagainya. Sebelum berangkat, senior kami berpesan bahwa mendengarkan dan melihat adalah tahap paling awal dalam berdialog untuk menyadari dan menemukan keterhubungan kita satu sama lain di dunia ini. Kami dimotivasi agar memiliki keinginan kuat untuk menghadirkan diri saja di tengah-tengah masyarakat itu.

Injil hari ini mengisahkan kegiatan Yesus ketika mengajar. Pada perikop sebelumnya, beberapa hari secara berturut ditampilkan tantangan yang dihadapi Yesus saat mengajar. Mulai dari pertanyaan tentang membayar pajak oleh orang Herodian dan orang Farisi hingga pertanyaan tentang kebangkitan oleh orang Saduki. Pertanyaan-pertanyaan itu menjebak, tetapi Yesus bisa keluar dari jebakan karena bijaksana dan mampu menerobos bingkai pemikiran konteks keyahudian. Yesus sebagai orang Yahudi tidak hanya terkurung pada pemikiran Yahudi. Pemikiran dan sikap Yesus merangkul semua orang dari segala penjuru dunia. Demikianlah kita temukan juga dalam Injil hari ini. Yesus adalah keturunan Daud secara historis dan masuk dalam garis keturunan Daud sebagai cara Allah untuk menghadirkan diri di dunia yang kita sebut inkarnasi. Allah menjadi manusia. Ya, kalau manusia berarti memiliki silsilah/tarombo dalam suku tertentu. Tetapi, bukan berarti bahwa Yesus adalah Tuhan hanya bagi keturunan Daud. Yesus adalah Tuhan bagi semua suku dan bangsa. Karena itu, Yesus berkata: “Jadi Daud sendiri menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia sekaligus anaknya?”. Pertanyaan ini mau menyadarkan para pendengar ajaran Yesus bahwa Yesus adalah Tuhan bagi semua orang. Sebelum Daud ada, Yesus sudah ada bersama Allah. Yesus ada sejak semula dengan Allah Bapa dan bersama-sama merencanakan inkarnasi dan memilih silsilah Daud untuk menjadi silsilah Yesus. Allah yang berbicara dalam Perjanjian Lama kepada Daud adalah Allah yang menjadi manusia dalam Perjanjian Baru dalam diri Yesus. Yesus adalah Allah yang merangkul semua orang dari seluruh waktu dan seluruh ruang dengan aneka latar belakang. Bagaimana cara kita orang beriman untuk berjumpa dengan orang-orang yang juga mengalami kehadiran Tuhan walaupun berbeda budaya dan agamanya dengan yang kita anut? Semoga Kitab Suci dan simbol-simbol agama kita bukan membuat kita terjebak dan terpenjara, tetapi membuat kita menjadi bijak untuk berjumpa dengan orang yang besar jumlahnya agar mereka juga mendengarkan Yesus dengan penuh hikmat seperti dikisahkan Injil hari ini. Marilah kita berdoa: “Tuhan, Engkau hadir dimanapun dan kapanpun serta merangkul semua orang di dunia. Semoga kami selalu menyadari bahwa kami terhubung satu sama lain di dalam Engkau”.
(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply