Renungan

Tahu, Sadar dan Sembuh

 265 total views,  2 views today

Sabtu Biasa XII/II: Rat 2:2. 10-14. 18-19, Mat 8:5-17
Pernah panik? Coba ingat saat-saat mengalami kepanikan. Dalam situasi panik, sangat sulit menemukan solusi atau pun mengambil keputusan yang terbaik. Kalaupun mengambil keputusan, kemungkinan besar akan memiliki resiko yang tinggi. Maka, hal utama yang penting dalam situasi panik adalah membangun kembali kesadaran seperti sediakala. Kepanikan tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Justru menimbulkan masalah baru dan begitulah seterusnya kalau tidak mampu menjinakkan kepanikan alias membangun kesadaran dan ketenangan berpikir serta merasakan tarikan nafas. Dalam tulisan saya kemarin, telah saya ungkapkan bahwa orang yang mengalami kesadaran walaupun menghadapi kesulitan akan merasakan betapa menyenangkan hidup ini karena masih banyak peluang yang muncul karena perpaduan pengalaman dan iman. Hidup menyenangkan bukan karena mempermainkan kenyataan, tetapi karena menerima kenyataan dengan kesadaran sebagai umat beriman.
Dalam Injil hari ini dikisahkan perjumpaan Yesus dengan perwira di Kapernaum. Perwira berkata kepada Yesus: “Tuan, hambaku terbaring di rumah sakit lumpuh, dan ia sangat menderita”. Yesus berkata: “Aku akan menyembuhkannya”. Kemarin, kita sudah mendalami peyembuhan yang dilakukan oleh Yesus terhadap orang kusta. Sekarang juga kita mendalami penyembuhan yang dilakukan Yesus terhadap hamba dari perwira di Kapernaum. Apa yang menarik? Perwira itu tahu mengatakan apa yang sedang terjadi. Perwira itu sadar akan kenyataan yang sedang dialami oleh hambanya. Dan, perwira itu bukan hanya tahu keadaan, tetapi juga tahu dan mengenal Yesus sebagai figur yang yang melebihi datu (dukun) dan juga melebihi panjaujaut (tukang obral kata-kata). Perwira itu tahu dengan jelas bahwa Yesus bukan sembarang orang. Itu berarti, perwira itu nggak panik. Nah, menariknya, perwira itu nggak merengek-rengek alias menuntut kepada Yesus agar Yesus wajib menyembuhkan hamba dari perwira itu. Perwira dengan sadar dan tidak panik curhat kepada Yesus. Berdoa berarti berjumpa dengan Yesus dalam kesadaran penuh. Halah… Pastor aja sering nggak konsentrasi berdoa apalagi menjadi sadar total? Nah, inilah misteri doa. Yesus tahu yang kita butuhkan, tetapi juga manusia harus tahu apa yang dibutuhkannya sendiri dan dibutuhkan oleh sekitarnya. Kesadaran ini berujung pada kerjasama antara Allah dan manusia untuk mewujudkan terjadinya karya Allah di dalam diri manusia dan sekitarnya. Entah penyembuhan terhadap penyakit yang dibuat sendiri atau dibuat oleh yang diluar dirinya sendiri. Sialnya, manusia sendiri sering tidak sadar dan kurang tahu apa yang perlu disembuhkan dalam dirinya dan dunia sekitarnya. Barangkali terlalu panik karena hiruk-pikuknya dunia?
Marilah kita berdoa: “Tuhan, Engkau tetap dekat dengan kami, tetapi kami sering tak tahu apa yang kami butuhkan untuk kami ungkapkan kepadaMu”
– Pastor Walden Sitanggang, OFMCap
Sumber gambar: https://andreasnataatmadja.com/2018/03/19/iman-adalah-keberanian-untuk-menghadapi-kenyataan-dengan-keyakinan/

Leave a Reply