Renungan

Mengalami dan Berbagi Cinta

 358 total views,  3 views today

HR.Tritunggal Mahakudus-A: Kel 34:4b-6. 8-9, 2 Kor 13:11-13 Yoh 3:16-16

Baru-baru ini saya berdiskusi tentang feeling dengan seseorang. Kata feeling bukanlah bahasa Indonesia. Tapi, orang Indonesia udah terbiasa menggunakan kata itu dalam percakapan sehari-hari. Saya sendiri nggak tahu sejak kapan kata itu diserap ke dalam bahasa Indonesia dan menjadi kata yang umum digunakan ke dalam percakapan sehari-hari, khususnya kaum muda. Feeling artinya merasa. Kalau berbicara tentang merasa berarti berbicara tentang pengalaman. Setiap manusia punya kemampuan untuk merasakan. Serentak juga manusia mampu mengalami kontak dengan dunia sekitarnya. Nah, kembali ke feeling atau merasa tadi. Seseorang bertanya, Apakah feeling adalah sebuah kenyataan atau sekadar khayalan? Saya jawab: “Feeling itu kenyataan. Tetapi sering kenyataan feeling memperpanjang khayalan dan kalau khayalan makin panjang, roh jahat bisa dengan mudah merasuki”. Maka, sadarlah dengan feeling agar tak menjadikan khayalan berlebihan 😁😁😁. Berbicara tentang perasaan adalah berbicara tentang pengalaman juga. Itu berarti nyata. Puncaknya, manusia melihat ke dalam dirinya dan berkontak dengan yang di luar dirinya.

Hari ini, Gereja kita merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus, Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus. Sejak masa awal gereja, banyak orang salah memahami. Tetapi, Gereja kita tetap meyakini bahwa Allah Tritunggal adalah Allah yang keluar dari diri-Nya untuk mendampingi dan menjumpai manusia, mencintai manusia dan membebaskan manusia. Allah hadir dalam sejarah keselamatan. Tiga Pribadi Allah adalah satu sebagai relasi cinta yang menghadirkan diri agar manusia mampu mengalami-Nya walaupun tetap manusia tidak mampu sempurna memahami-Nya. Sebab, otak manusia terlalu kecil memahami misteri Allah seperti sebutir pasir di tepi pantai lautan luas. Agar manusia mampu mengalami perjumpaan dengan Allah, maka Allah mengikutsertakan manusia dalam kesatuan relasi cinta Allah Tritunggal Mahakudus dengan mengutus Anak-Nya yang tunggal, yaitu Yesus Kristus. Karena itu, merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus adalah merayakan pengalaman manusia dicintai, disertai, dituntun dan didampingi oleh Allah dalam diri Putera-Nya dan Roh Kudus-Nya. Pengalaman akan Cinta Allah menggerakkan orang beriman keluar dari dirinya untuk mencintai sesamanya. Itu berarti, setiap inti terdalam pribadi manusia terhubung dengan sesamanya. Sebab cinta adalah inti terdalam manusia yang darinya muncul kemampuan untuk mencintai dan dicintai. Pengalaman dicintai oleh Allah dalam perjalanan hidup membuat orang merasa terlibat dalam relasi cinta Allah dan juga merasa terdorong untuk mencintai sesama. Karena itu, Cinta Tritunggal Mahakudus adalah perayaan orang beriman yang selalu bertanya kepada sesama: “Maukah kamu kucintai?” Cinta illahi adalah cinta yang layak dirayakan. Marilah kita berdoa: “Tuhan, semoga kami tidak hanya merasakan cinta-Mu, tetapi terdorong juga untuk membagikan cinta-Mu”
(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply