Renungan

Kok Mendoakan Musuh? Itulah Arti Menjadi Kristen

 272 total views,  2 views today

Selasa Biasa XI/A: 1Raj 21:17-29, Mat 5:43-48
Seorang bijaksana berkata: “Kalau kamu mau memiliki wawasan dan dunia yang luas, maka kamu harus memperluas pemikiran tentang dirimu dan tentang yang di luar dirimu”. Ada benarnya juga ya? Ya iyalah pastor, penulisnya orang bijak koq. Yang tidak bijak itu adalah yang menikmati keterlanjuran. Terlanjur berpikir buruk tentang orang lain,selanjutnya terlanjur mengkafirkan, terlanjur memberi cap atau label, terlanjur membenci, terlanjur menjengkal dan masih banyak terlanjurnya lagi. Keterlanjuran inilah yang membuat terkungkung, terpenjara, dan dunianya pun terbatas karena ada batasan garis yang memisahkan kafir, yang memisahkan orang-orang yang tidak diinginkan. Sampai di sini tidak ada yang aneh. Karena, di dunia yang fana ini, manusia tercipta dari debu tanah yang rapuh, lemah dan bahkan mudah pecah berkeping-keping. Salah satu kerapuhan itu, ya keterlanjuran membuat pemisahan tadi.
Dalam Injil hari ini, Yesus berkata: “Kasihilah musuh-musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kalian”. Dengan ungkapan ini, Yesus menyadarkan pendengarnya bahwa ada kecenderungan manusia untuk bermusuhan. Tetapi, Sang Guru dari Nazareth yang terkenal bijaksana itu membangun cara pandang pengikutnya agar tidak mapan pada pembatasan yang dibuat berdasarkan pemikiran manusia. Allah menurunkan hujan bagi orang baik dan orang jahat. Maka, orang beriman diajak agar tidak menjadikan agama sebagai pembatas apalagi sebagai sumber permusuhan. Caranya adalah dengan mendoakan. Saya mengerti mendoakan di sini bukan setiap kali cekcok dengan seseorang atau bermusuhan dengan seseorang langsung cepat-cepat melipat tangan buat tanda salib dan berdoa. Bolehlah begitu, tetapi lebih dari itu mendoakan ini saya mengerti sebagai kesadaran bahwa orang lain tetaplah manusia seperti saya yang sering kebingungan mengerti diriku sendiri. Bingung karena terlanjur saya membenci, bingung karena saya terlanjur membuat pembatasan, bingung karena sudah terlanjur saya membuat pembatasan dan ujung-ujungnya bingung karena duniaku semakin sempit. Kebingungan ini muncul karena saya tidak mampu sempurna memahami diriku, mengapa saya harus terlanjur. Kalau memahami diriku sendiri masih bingung apalagi memahami orang lain. Maka, doa adalah pengakuan kerapuhan diri dan kerapuhan sesama di hadapan Allah. Sialnya, orang yang tidak menyadari kerapuhannya cenderung memperbanyak musuh dan mempersempit dunianya karena hanya melihat kerapuhan orang lain. Marilah kita berdoa: “Tuhan, siapakah kami di hadapan-Mu?”
(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

 

Sumber Gambar: https://u-channel.tv/doa-yang-efektif/

Comments (1)

  1. Semoga Bermanfaat

Leave a Reply