Renungan

Iman Menyembuhkan

 265 total views,  2 views today

Jumat Biasa XII/A: 2 Raj 25:1-12, Mat 8:1-4
Dengan sedikit seloroh teman mengejek saya kemarin. Menjelang tengah hari, saya beranjak dari tempat saya sehari-hari menggeluti banyak hal menuju ladang di belakang rumah kami. Saya ambil batang ubi kayu dan saya potong-potong kemudian saya tancapkan seperti cara ayah saya dulu menanam ubi kayu. Teman saya bertanya: “Untuk apa itu?” Saya menjawab: “Membangun ketahanan pangan”. Mungkin karena lucu dia dengar, maka dia mengejek saya dengan berkata: “Kamu ini berpura-pura. Menjaga ketahanan pangan dengan ubi padahal sarapan roti. Entah apa yang merasukimu” sambil tertawa dia berlalu. Kami berdua jomblo permanen yang harus bergembira. Bagi saya sendiri, tertawa itu sudah melebihi kekuatan corona saat ini. Sulit kubayangkan kalau dunia tidak bisa tertawa lagi pada masa ini. Mau ketawa? Mari kita dalami Injil hari ini.
Dalam Injil hari ini dikisahkan perjumpaan Yesus dengan orang kusta. Kusta adalah penyakit yang sangat menjijikkan dan sangat dijauhi pada jamannya. Selama pendidikan, saya pernah tinggal di tempat orang kusta. Kemudian, saya pernah diajak oleh Pater Leo Joosten mengunjungi rumah kusta yang didirikan di daerah Aceh. Memang sangat kasihanlah melihat mereka yang mengidap kusta. Namun, dalam Injil hari ini seolah-olah penyakit ini menjadi bahan lucu-lucuan. Kenapa? Orang kusta datang kepada Yesus dengan berkata: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan daku”. Orang kusta sebenarnya terisolasi. Tidak hanya secara fisik tetapi juga secara sosial. Ada tempat khusus untuk mereka dan umumnya dipasang lonceng di kaki mereka sehingga kalau mereka sedang berjalan, orang lain tahu mengambil jarak. Lebih parah dari physical distancing saat ini. Tapi, koq bisa bertemu dengan Yesus? Nah, itu tadi kalau hidup dirasa sebagai misteri, hal yang paling sulit pun bisa menjadi hal yang sangat menarik. Si kusta terisolasi, tapi koq tahu bahwa sang Guru dari Nazaret adalah penyembuh yang melampaui segala dukun entah datu bolon (dukun besar) atau datu pangulpuk (peramal) atau juga barangkali na padatudatuhon (yang sok dukun). Hasilnya, perjumpaan dengan Yesus membuat si kusta sembuh. Pengetahuan si kusta bukan berdasar pada latar belakang akademis tentang sang Guru dari Nazaret. Didalamnya ada perpaduan pengalaman dan iman yang berkolaborasi menjadi pengetahuan tentang Guru dari Nazaret. Dalam situasi Pandemi ini, semoga pengalaman dan iman kita membuat kita tahu berbuat sesuatu agar kita bisa berjumpa dengan sang Guru dari Nazaret. Marilah kita berdoa: “Tuhan, kami rindu berjumpa dengan Dikau”
Pastor Walden Sitanggang, OFMCap
Gambar dari: https://catatanseorangofs.wordpress.com/tag/yesus-menyembuhkan-orang-kusta/

Leave a Reply