Mp3Renungan

Hukum untuk Hidup

 336 total views,  2 views today

Rabu Biasa X/A: 1 Raj 18:20-39, Mat 5:17-19

Hukum dibuat oleh manusia agar tercipta keharmonisan dalam kehidupan bersama. Itulah tujuannya. Karena itu, hukum bukan dibuat oleh seseorang, melainkan lahir dari kesepakatan bersama. Hal yang sama berlaku untuk seluruh lingkungan kehidupan kita, entah dalam keluarga, organisasi, Gereja, Ordo/tarekat, dan sebagainya. Namun, tak jarang juga hukum diperalat. Maka, tujuan yang dihasilkan bukan lagi menciptakan keharmonisan, melainkan kekacauan. Ironinya, hal itu dibuat oleh orang yang tahu hukum. Karena itu, menghafal dan melakukan hukum yang tertulis saja, tidak cukup. Manusia bukan robot yang remote controlnya dipegang oleh orang lain. Manusia mampu membaca yang tersirat dalam yang tersurat. Seseorang pernah bercerita dengan bangga kepada saya bahwa dia berusaha menghafal teks Kitab Suci sebanyak mungkin. Kemudian, saya bertanya: “Untuk apa? Apa memang bisa kamu hafal titik dan komanya di mana diletakkan? Sebab, setiap titik, koma dan tanda-tanda baca lainnya memiliki arti. Nah, kalau hafalanmu kabur, maknanya juga pasti akan kabur”. Mungkin dia pikir saya mematahkan semangatnya. Padahal saya cuma mau menyadarkan bahwa yang jauh lebih penting adalah menangkap kekayaan yang tersirat di dalam yang tersurat.

Dalam Injil hari ini, Yesus berkata: “Janganlah kalian menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya”. Kalimat ini sebenarnya adalah sindiran Yesus bagi pendengarnya dengan bahasa lain bahwa sebelum Yesus datang, Hukum Taurat belum genap. Maka, untuk apa pula menghafal-hafal yang belum genap atau yang belum sempurna? Karena itu, Yesus menegaskan bahwa tidak cukup hanya menghafal dan melaksanakan Hukum Taurat. Jauh lebih dalam lagi ialah, menjadikan Hukum Taurat mewujudkan pembaruan dan pembela kehidupan karena Allah adalah Allah pembela kehidupan sebagaimana ditunjukkan oleh Yesus dalam seluruh hidup-Nya. Hal yang sama berlaku untuk semua aturan di mana pun kita hidup. Peraturan layak disebut peraturan kalau membela kehidupan. Tanpa itu, sebanyak apa pun aturan akan gagal menciptakan keharmonisan. Kalau gagal menciptakan keharmonisan mau tujuan apa lagi disasar aturan itu selain untuk menindas? Marilah kita berdoa: “Tuhan semoga kami pembela kehidupan melalui ketaatan pada hukum dan aturan yang berlaku”
(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply