NewsRenungan

HARI RAYA HATI YESUS YANG MAHAKUDUS

 472 total views,  3 views today

Jumat, 19 Juni 2020
HARI RAYA HATI YESUS YANG MAHAKUDUS
Ul 7:6-11
1Yoh 4:7-16
Mat 11:25-30

Sampai saat ini saya masih bingung kalau orang mengungkapkan kata “cinta terlarang”. Bingung karena dalam benak saya langsung muncul pertanyaan: “Adakah cinta yang terlarang?” Kalau disebut cinta ya pasti menghadirkan dimensi khas manusiawi, yakni: akal budi/penalaran, hati/perasaan dan jiwa. Tentang yang terakhir ini sangat penting, karena tubuh manusia bukan seonggok daging. Berarti, dengan akal budi, perasaan dan penghayatan tubuh yang hadir selalu dengan jiwa menjadikan cinta universal, unlimited. Tak mungkin orang mencintai tanpa akal budi, tanpa perasaan, tanpa pemahaman bahwa tubuh bukan hanya daging. Kalau pun ada yang berusaha mencintai tanpa akal budi, atau tanpa hati, atau tanpa penerimaan tubuh yang selalu hadir dengan jiwa, itu bukan cinta. Orang yang berusaha memaksakannya sebenarnya bukan sedang mencintai, melainkan sedang memperagakan kemampuan yang bukan kemampuan khas manusia.

Hari ini Gereja kita merayakan Hati Yesus Yang Mahakudus. Dalam bacaan Kedua hari ini dikemukakan kepada kita tentang kasih Allah: “Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allahlah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai silih bagi dosa-dosa kita”. Siapa kita? Saya sangat yakin bahwa “kita” yang dimaksud di sini bukan hanya Katolik atau pun Kristen. Allah adalah Allah bagi semua orang. Dalam Injil hari ini, Yesus berkata: “Datanglah kepada-Ku, kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang, dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati. Maka hatimu akan mendapat ketenangan. Sebab enaklah kuk yang Kupasang, dan ringanlah beban-Ku”. Ungkapan “kamu semua” saya mengerti juga bukan hanya untuk Katolik dan Kristen. Yesus mengundang semua orang ke dalam Hati-Nya yang mahakudus agar semua orang mengalami cinta dan dipersatukan oleh cinta. Marilah kita berdoa: “Tuhan, semoga kami tak berhenti belajar mencintai dan dicintai karena Hati-Mu yang selalu terbuka bagi kami semua”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply