Mp3

Harga Diri Sesungguhnya

 504 total views,  3 views today

Sabtu Biasa IX: 2Tim 4:1-8,Mrk 12:38-44

Harga diri bukanlah hasil pencarian, melainkan ada sejak manusia tercipta. Karena itu, harga diri seseorang tidak ditentukan oleh pencapaian, kedudukan, jabatan ataupun materi yang dimiliki oleh seseorang, yakni harta atau kekayaan. Karena itu, harga diri adalah anugerah dari Tuhan. Kalau tidak, betapa ribetnya dunia ini. Iya kan? Orang yang tidak sadar bahwa harga diri sudah dianugerahkan oleh Tuhan sejak awal akan sibuk mencari harga diri, pengakuan, penghormatan dari sekitarnya. Karena tidak semua orang mampu memenuhi keinginan itu ujung-ujungnya tersinggung, marah, sakit hati dan terluka. Ha ha ha. Inilah yang disebut dengan luka yang dibuat oleh diri sendiri. Gimana caranya melukai diri sendiri? Ya itu tadi, mengharuskan orang lain memenuhi keinginan diri sendiri. Cobalah terapkan, maka selekas itu dunia sekitar akan terasa menyakitkan. Apa hubungannya dengan Injil hari ini?

Dalam Injil hari ini disampaikan kepada kita sikap Yesus terhadap ahli-ahli Taurat yang haus akan harga diri. Beragam cara dibuat oleh para ahli Taurat yang haus harga diri itu untuk mendapatkan pengakuan. Entah dengan cara kotbah tipu-tipu, mengibuli para pendengar dakwahnya, menakut-nakuti dengan ayat-ayat Kitab Suci tentu dengan pakaian yang menarik perhatian untuk tidak mengatakan aneh alias norak bahkan dengan menggunakan suara aneh yang dilabeli dengan bahasa roh. Pokoknya, tujuannya jelas, yakni mendapatkan kebutuhan yang dicari-carinya. Sadisnya, yang menjadi korban biasanya adalah orang-orang yang memiliki nalar. Tapi, ya itu tadi, nalarnya barangkali disimpan sehingga rasanya yang dominan. Kalau rasa dominan, maka boleh disimpulkan akan menjadi tidak obyektif. Alurnya sudah soal suka atau tidak suka. Namanya udah suka, maka apa pun yang dibuat tukang kibul itu ya pasti ditelan bulat-bulat. Terhadap sikap para pencari kehormatan itu, Yesus menasihati para murid-Nya dengan memuji sikap janda yang mempersembahkan dua peser. Uang dengan dua peser memiliki nilai tukar yang sangat kecil. Itulah dimasukkan janda ke dalam peti persembahan. Bagi si janda arti persembahan jelas sebagai ungkapan diri, bukan pencarian kehormatan atau harga diri. Baginya, tidak masalah entah dipuji atau diejek karena mempersembahkan uang dengan nilai tukar yang sangat kecil seperti itu. Persembahannya menunjukkan betapa ia merasa berharga di hadapan Tuhan sehingga ia memberikan apa yang dia miliki. Orang yang merasa berharga di hadapan Tuhan mampu bersyukur dan mempersembahkan diri. Tanpa merasa berharga di hadapan Tuhan, kerepotan manusia tidak pernah berhenti mencari penghargaan dan kehormatan dari manusia sekitarnya. Jatuhnya malah pada gak punya harga diri. Marilah kita berdoa: “Tuhan, semoga kami selalu menyadari bahwa harga diri kami berasal dari Dikau”
(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply