Renungan

Hak Allah dan Kaisar

 398 total views,  4 views today

Selasa Biasa IX: 2 Ptr 3:12-15. 17-18, Mrk 12:13-17

Manusia adalah mahkluk bertanya. Banyak hal bisa dipertanyakan. Dengan bertanya, manusia menambah pengetahuan dan pemahaman tentang dirinya dan tentang yang di luar dirinya. Sebenarnya, bertanya pun sudah pengetahuan. Tidak mungkin orang bertanya kalau tidak memiliki pengetahuan. Misalnya, seseorang bertanya mengapa harus pakai masker kalau ke luar rumah, berarti dia tahu apa itu masker. Karena dia tahu apa itu masker, dia ingin menambah pengetahuan tentang masker dan kaitannya dengan hidupnya yang sering ke luar rumah, dan apa akibatnya kalau dia memakai masker dan kalau tidak memakai masker juga apa akibatnya. Maka, selain mahkluk bertanya, manusia juga disebut mahkluk berpikir. Hanya orang yang berpikir layak bertanya. Ha ha ha. Bahasa apaan sih pastor! Namun, ada juga orang yang bertanya bukan untuk menambah pengetahuan atau mencari pencerahan, melainkan untuk menjerat. Tetaplah orang seperti itu adalah orang yang berpikir, tetapi pikirannya dipakai untuk menjerat. Padahal, pengetahuan harus membuat orang merdeka, bukan menjerat, mengurung, apalagi memenjarakan. Manusia bisa merdeka kalau memiliki pengetahuan. Tapi kalau pengetahuan diapakai untuk menjerat, celakalah yang melakukannya. Kalau tujuan orang yang bertanya adalah tujuan negatif ya untuk apa lagi sebenarnya dijawab bukan? Yesus punya cara menghadapi orang-orang seperti itu. Marilah kita dalami Injil hari ini

Dalam Injil hari ini, dikisahkan perbincangan orang Farisi dan Herodian yang disuruh menghadap Yesus. Orang-orang suruhan itu bertanya: “Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur. Engkau tidak takut kepada siapa pun, sebab Engkau tidak mencari muka, tetapi dengan jujur mengajar jalan Allah. Nah, bolehkah kita membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?”. Yesus sigap mengetahui jalan pikiran orang-orang suruhan itu. Memang gampang mengetahui jalan pikiran orang suruhan. Namanya pun orang suruhan. Orang suruhan hanyalah menyampaikan pemikiran orang yang menyuruh. Suruhan ya tunduk sama orang yang menyuruh. Masuk akallah memang orang-orang suruhan adalah orang-orang yang malas berpikir. Soalnya, kalau dia rajin berpikir gak akan disuruh-suruh lagi karena akan kritis menerima dan menyampaikan sesuatu. Bukan asal taat menelan bulat-bulat sebuah perintah dan tunduk manggut-manggut pada orang yang menyuruh. Yesus berkata: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi hak Kaisar, dan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah”. Jawaban ini sebenarnya adalah permainan kata yang digunakan Sang Guru ulung dari Nazaret. Lho, siapa yang paling berkuasa? Allah atau Kaisar? Dengan jawaban itu, Yesus menegaskan bahwa Allah penguasa kehidupan dan Kaisar bertanggung jawab mengatur tatanan kehidupan agar kehidupan sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah. Tanpa itu, Kaisar tidak memiliki hak dari wilayah kedudukannya selain karena pemaksaan kuasa. Memaksakan kuasa tanpa memakai pemikiran sama saja dengan budak kuasa atau suruhan naluri berkuasa bukan? Marilah kita berdoa: “Tuhan, ajarilah kami agar bijak dan kritis berpikir untuk membangun masyarakat kami bersama para pemimpin negara untuk membangun tatanan hidup yang sesuai dengan kehendak-Mu”
(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply