Renungan

Dirikan Rumahmu atas dasar….

 263 total views,  3 views today

Kamis Biasa XII/A: 2 Raj 24:8-17, Mat 7:21-29
Rumah bukan sekadar tempat berteduh atau tempat tinggal. Juga, bukan sekadar bangunan. Rumah tak bisa dipisahkan dengan penghuninya yang adalah manusia sebagai mahkluk sosial, religius dan bekerja. Karena itu, sebagai bangunan, rumah memiliki type dan klasifikasi tetapi lebih dari sebuah bangunan, hal yang paling inti dari sebuah rumah adalah penghuni rumah dalam memerankan diri sebagai mahkluk sosial yang memiliki tatanan hidup,berdimensi religius dan sebagai mahkluk bekerja. Dengan demikian, kita mengerti rumah tangga sebagai kelompok yang memerankan fungsinya sebagai mahkluk sosial, religius dan bekerja. Tentu, masih banyak lagi dimensi lain yang terkait dengan rumah tangga. Saat ini, konsep tentang rumah bisa saja terabaikan dengan berkembangnya bisnis properti. Rumah menjadi sekadar bangunan yang digunakan sebagai bisnis. Dan karena itu, rumah hanya sekadar tempat tinggal atau tempat berteduh. Padahal, jauh lebih dalam, rumah memuat dimensi religius yang berarti rumah merupakan tempat terhubungnya penghuni rumah kepada yang illahi agar tercipta harmoni kehidupan di dalam rumah tangga dan juga ke luar rumah, yakni tetangga dan orang sekitar.
Dalam Injil hari ini Yesus memberi pengajaran dengan membuat perumpamaan, yakni rumah yang didirikan di atas wadas, yakni rumah yang kokoh dan tidak rubuh saat diterpa hujan, banjir dan angin. Sedangkan rumah yang didirikan di atas pasir akan rubuh saat diterpa hujan, banjir dan angin.Perumpamaan ini dipakai oleh Yesus untuk menggambarkan orang yang bijaksana dan orang yang bodoh. Yesus memang punya latar belakang keluarga tukang, karena papanya,yakni Santo Yosef adalah seorang tukang. Namun, lebih dari seorang arsitektur, Yesus memberikan pengajaran untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Dan, membangun kehidupan yang lebih baik tidak pernah sekali jadi. Bisa berkali-kali karena terus diterpa oleh dahsyatnya banjir dan angin badai. Gagal untuk kesekian kalinya menjadi bermakna kalau menjadikan kegagalan sebagai pelajaran untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Kegagalan memang sering tidak memiliki arti, tetapi ketangguhan sering teruji setelah melewati sekian banyak kegagalan. Masalahnya, ada orang karena tidak bisa membangun eh malah menghancurkan bangunan yang telah dibangun orang lain. Pilih yang mana? Marilah kita berdoa: “Tuhan, hidup kami sering rubuh dan runtuh, kami mohon kesetiaan dan ketekunan hati agar tetap setia membangun kehidupan yang lebih baik sesuai dengan sabda-Mu”
-Pastor Walden Sitanggang, OFMCap-
Sumber Gambar: http://www.injil-kerajaan.com/2020/06/11/pesan-tuhan-yesus-jangan-dirikan-rumahmu-di-atas-pasir/

Leave a Reply