Renungan

Beriman: Mencitai Tuhan dan Sesama secara Bebas!

 373 total views,  2 views today

Kamis Biasa IX: 2 Tim 2: 8-15, Mrk 12: 28-34

Ahli adalah orang yang mahir atau orang yang paham dalam suatu bidang ilmu. Ada ahli virus, ahli filsafat, ahli agama, ahli filsafat, ahli hukum dan tentu banyak lagi ahli sesuai dengan jurusannya masing-masing. Integritas ahli teruji karena ahli konsisten mengusahakan keahliannya terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Baru-baru ini saya tahu bahwa ada juga ternyata ahli kunci. Artinya, seseorang yang memiliki kemampuan untuk menggandakan kunci 😊😊😊. Walaupun, saya bertanya-tanya dalam hati apakah tepat gelar itu dan sah di negeri ini sebagai jenis keahlian. Ada apa dengan Injil hari ini sehingga berbicara tentang ahli?

Dalam Injil hari ini dikisahkan kepada kita percakapan seorang ahli Taurat dengan Yesus. Ahli Taurat bertanya: “Perintah manakah yang paling utama?”. Lho, seorang ahli koq bertanya gitu? Katanya ahli tapi koq masih tanya gitu. Ahli Taurat adalah ahli yang bergelut pada bidang kehidupan manusia dengan sesama dan juga hubungan manusia dengan Tuhan. Tentang hubungan itu tertulis semua dalam Hukum Taurat yang sekarang kita sebut dengan lima kitab pertama dari Kitab Suci Perjanjian Lama. Melalui perikop Injil hari ini, penulis Injil sangat lihai untuk menyampaikan pesan kepada pembacanya. Yesus menegaskan bahwa keahlian harus selalu diarahkan pada peningkatan mutu hubungan antar manusia dan hubungan dengan Tuhan. Keahlian harus diarahkan untuk pembangunan kasih dengan sesama manusia dan pembangunan kasih dengan Tuhan. Kalau mengikuti pengertian “ahli” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pembaca renungan ini tentu tidak semua ahli. Tapi, bukan berarti pesan Injil tidak jelas bagi kita. Sebagai orang beriman, kita ditantang untuk membarui hubungan kita dengan sesama dan hubungan kita dengan Tuhan. Iman adalah keahlian untuk berelasi dengan sesama dan dengan Tuhan. Celakanya, orang beriman sering menggadaikan imannya seperti seorang ahli yang menggadaikan keahliannya. Semoga iman kita membuat kita bebas mencintai sesama dan mencintai Tuhan yang menyatakan diri-Nya dalam seluruh perjalanan hidup kita. Marilah kita berdoa: “Tuhan, semoga iman kami membuat kami berbahagia dan membuat sesama kami berbahagia di dalam Engkau”.
(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply