Renungan

Bahagia: Terhubung dengan Tuhan

 424 total views,  2 views today

Senin Biasa X: 1Raj 17: 1-6, Mat 5: 1-12

Semua orang ingin mengalami kebahagiaan. Jalan yang ditempuh untuk mengalamai kebahagiaan beraneka ragam. Penganut agama tertentu menempuh cara yang diajarkan agamanya yang tertentu pula untuk mencari kebahagiaan. Namun, tak jarang juga orang mampu mengalami kebahagiaan karena kondisi-kondisi yang sesuai dengan pikirannya. Misalnya, bahaga karena perkataannya dipatuhi, bahagia karena permintaannya terpenuhi, bahagia karena kesukaannya terpuaskan, bahagia karena segalanya tersedia. Kalau nggak? Ya dicari lagi. Kalau nggak dapat? Ya tetap dalam pencarian. Sampai kapan? Ya, sampai nggak bisa mencari lagi. Kalau kebahagiaan yang dicari adalah kebahagiaan bersyarat, maka tiada hentinya upaya pencarian. Yang baca renungan ini semoga bahagia bukan karena mencari kebahagiaan tetapi karena mengalami kehidupan. Lho, apa maksudnya pastor? Marilah kita dalami Injil hari ini.

Dalam Injil hari ini dikisahkan tentang Yesus yang mengajar para pengikut-Nya dari atas bukit. Ajarannya di atas bukit itu disebut Sabda Bahagia. Saya sendiri waktu melihat-lihat tempat Yesus mengajarkan Sabda Bahagia ini heran. Koq, Yesus masih mengajar orang untuk bahagia padahal hanya duduk saja di tempat itu rasanya sudah bahagia. Dari bukit itu tampak Danau Galilea yang teduh dan perkampungan di sekitarnya. Daerah pertanian yang ditata sebagai penghasil buah
adalah view atau pemandangan yang sangat indah. Perbukitan yang mengitari danau walau dengan bisu melukis keajaiban dan keagungan penciptanya. Tapi, itu bisa nggak kelihatan kalau orang sibuk mencari kebahagiaan karena selfie 😁😁😁. Karena itu, Yesus dalam kotbah-Nya di atas bukit mengajari para pengikut-Nya bahwa kebahagiaan adalah milik orang-orang yang sungguh sadar akan kehadiran Tuhan dalam seluruh situasi hidupnya. Miskin, menderita, dianiaya, difitnah, dicela dan bahkan ditolak naskah Kitab Sucinya dalam aplikasi tertentu karena persalan bahasa adalah pengalaman manusiawi. Tapi, pengalaman itu menjadi pengalaman kebahagiaan karena dalam pengalaman itu, orang tidak lumpuh oleh keadaan, namun melihat keadaan itu sebagai ajang perjumpaan dengan Tuhan. Sehingga saya masih bisa tersenyum-senyum membaca pemikiran orang yang menolak terjemahan Kitab Suci dalam aplikasi dengan bahasa tertentu. Dalam situasi sangat miskin pun, orang masih mampu bersyukur. Itu bisa terjadi kalau memahami kebahagiaan adalah seluruh situasi hidup yang senantiasa bersandar pada Tuhan bahkan walau tidak ada daya lagi untuk bersandar tetapi berusaha untuk bersandar. Itu berarti, dalam situasi sangat menderita atau sangat terpuruk pun, orang bisa berbahagia. Kebahagiaan yang dimaksud bukan hanya soal tertawa. Tertawa terbahak-bahak tidak selalu menjadi tampilan orang yang berbahagia. Orang yang berbahagia memiliki daya kreatifitas untuk menjalani hidup dengan aneka tantangannya. Entah new normal atau belum normal, orang yang berbahagia mampu terhubung dengan dirinya yang terdalam dan terhubung dengan Tuhannya. Tanpa itu, seindah apa pun dunia ini akan tetap gelap. Marilah kita berdoa: “Tuhan, semoga kami tidak asyik membedakan keuntungan atau kemalangan, melainkan asyik berjumpa dengan Dikau”
(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply