Renungan

TURUNNYA ROH KUDUS

 358 total views,  3 views today

HR Pentakosta: Kis 2:1-11, 1Kor 12:3b-7. 12-13, Yoh 20:19-23

Apakah orang masih percaya akan kehadiran Roh Kudus pada jaman ini? Dengan kemampuan otak, manusia mampu menciptakan banyak hal yang perlu dalam kebutuhannya. Banyak hal bisa dicipta oleh manusia untuk kebutuhan praktis kehidupan sehari-hari. Ilmu pengetahun dan teknologi terus berkembang dan akan terus menghasilkan penemuan-penemuan baru. Segala penemuan-penemuan itu ditujukan untuk mendukung kehidupan manusia di bumi ini. Kemajuan berpikir dan daya cipta manusia melahirkan daya kritis, terhadap banyak hal. Selain menikmati penemuan-penemuannya, manusia mengkritisi segala sesuatu. Apa lagi yang tidak bisa diciptakan manusia untuk kebutuhannya saat ini? Dengan demikian muncul juga pertanyaan: Apakah Roh Kudus ada dan dalam bentuk apa karya-Nya? Wah… Pertanyaan ini kan sudah kujawab pastor. Jawabnya apa? Saya sudah pernah diajari berbahasa roh. Bukankah itu maksudnya karya roh? Saya tidak pernah belajar berbahasa roh dan tak berminat belajar berbahasa roh, marilah kita dalami Injil hari ini.

Bacaan-bacaan yang disampaikan kepada kita hari ini tentang kehadiran Roh Kudus. Dalam bacaan pertama dari Kisah Para Rasul dikisahkan turunnya Roh Kudus bagi orang-orang yang percaya. Orang-orang yang percaya sedang berkumpul di suatu tempat. Dikisahkan bahwa mereka semua yang berkumpul yang datang dari berbagai daerah dipenuhi oleh Roh Kudus. Setelah dipenuhi Roh Kudus, mereka yang datang dari berbagai daerah dan memakai berbagai bahasa menjadi saling mengerti. Artinya, Roh Kudus mempersatukan dan membuat orang beriman saling mengerti satu sama lain. Dalam Injil hari ini, Yesus berkata: “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada”. Yesus menegaskan bahwa hanya dengan menerima Roh Kudus orang beriman mampu mengampuni dosa sesama yang berdosa. Mengampuni dosa adalah tugas yang sangat berat. Maka, manusia tidak berdaya kalau hanya mengandalkan diri. Kalaupun manusia memiliki kemampuan nalar dan teori penemuan-penemuan yang hebat di alam raya ini, manusia tidak mampu mengampuni tanpa Roh Kudus. Pengampunan adalah karya Roh Kudus sekaligus kehadiran Roh Kudus. Karena itu, Roh Kudus diutus kepada setiap orang beriman agar mampu saling mengampuni dengan pengertian yang berasal dari Allah. Akan bagaimana jadinya Gereja kita yang kudus, apostolik, satu dan katolik kalau tidak terjadi saling mengampuni di antara umat beriman dan juga antara umat beriman dengan gembala Gereja? Pertanyaan ini bisa kita perluas. Akan bagaimana keluarga, ordo, komunitas religius, masyarakat, bangsa dan dunia kita kalau tidak saling mengampuni? Dengan merayakan turunnya Roh Kudus, kita mengalami pembaruan.Allah menunjukkan pengertian dan pemahaman bagi manusia yang berdosa dan Allah memberi pengampunan bagi dosa-dosa manusia. Cinta dan pengertian dari Allah yang mengampuni manusia hendaknya mendorong manusia untuk mengampuni dosa sesama dengan pengertian yang bersumber dari Allah. Kita bersyukur karena warisan Yesus menjadi harta kekayaan Gereja kita dalam wujud Sakramen Tobat atau disebut juga Sakramen Pengakuan Dosa. Peristiwa Pentakosta ini juga adalah momen yang tepat untuk merenungkan Sakramen pengakuan dosa sejauh mana kita maknai dan hidupi dalam hidup beriman kita. Dengan mengalami kasih dan damai dari Tuhan sendiri yang mengampuni dosa-dosa kita, kita juga diutus untuk menjadi saksi damai kepada semua orang. Roh Kudus membuat kita mampu untuk keluar dari sekat-sekat Gereja kita agar berjumpa dengan sesama berbagi kasih dan damai sebab Roh Kudus tidak pernah membangun sekat dan membuat perpecahan. Bila tidak, Gereja kita sedang berpura-pura berbahasa roh dan bahkan mengikuti roh palsu. Maka, kerendahan hati untuk belajar bersama dengan sesama penganut agama yang berbeda mencari jalan untuk membangun perdamaian dan kesatuan adalah keharusan bagi setiap orang beriman. Marilah kita berdoa: “Tuhan, kami bersyukur atas Roh Kudus-Mu yang Kau curahkan atas kami. Semoga Roh-Mu menuntun kami mengadakan pembaruan untuk membangun persatuan dan kedamaian”.
(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply