Cerpen

Kebahagiaan Yang Sesungguhnya

Kebahagiaan yang Sesungguhnya

 647 total views,  2 views today

“Rose, bapak meminta kamu jadi pendamping minggu gembira ya!” Begitu ujaran bapak Martin pada Rose sore tadi. Kalimat itu selalu terngiang saat Rose beranjak pulang dari gereja ke rumah. Sambil memasak kemudian mencuci piring Rose selalu memikirkan permintaan bapak Martin. Bahkan saat makan malam bersama dengan bapak, ibu dan kedua adiknya Ia hanya termenung. Rose bertanya dalam lamunannya, mengapa Ia yang diminta untuk menjadi pendamping minggu gembira.

Rose boru Saragih. Gadis kelas 2 SMA yang beragama katolik, yang tinggal di sebuah kota di daerah kabupaten karo. Ia tinggal bersama bapak, ibu dan kedua adiknya disebuah rumah yang sederhana. Walaupun mereka tinggal di komplek yang mayoritas bersuku batak karo tetapi orangtuanya selalu mengajarkan untuk selalu bangga bersuku batak simalungun. Walau demikian dari sekian banyak OMK di gerejanya, mengapa harus Ia yang dimintakan menjadi pendamping minggu gembira. Pikiran polosnya mengatakan bagaimana bisa Ia membimbing minggu gembira dengan suku yang berbeda.

Tiba-tiba Rose tersadar karena canda tawa keluarganya. Ternyata Ia begitu larut dalam lamunannya sampai tak menyadari keluarganya bernyanyi bersama dengan ceria. Mereka menyanyikan lagu yang berjudul “Horas sayur matua” yang diputar dari kaset DVD. Rose berfikir, “Apakah Ia berani mendampingi minggu gembira itu?”

Gotta sing, gotta dance! - BT

Tatapan mata Rose menerawang ke sebuah gambar yang tergantung di dinding. Terlihat foto sesosok lelaki yang lumayan tampan dengan pakaian modern pada zamannya, berdiri dengan satu tangan di kantung. Kemudian matanya beralih memandang sesosok nyata yang sedang bernyanyi di hadapannya. Badannya gemuk, rambut beruban tetapi masih tetap tampan. Yang berbeda adalah tangan itu tidak lagi berada di kantung celana, tetapi terkulai lemah dipangkuannya yang lumpuh akibat kecelakaan 2 tahun lalu. Kecelakaan yang mengubah hidup keluarganya terutama hidup Rose. Itulah alasan utama keraguan Rose untuk menjadi pendamping minggu gembira.

Tahun pertama kecelakaan itu hidup mereka mengalami pergolakan hebat. Kelumpuhan bapak Rose menyebabkan tidak adanya uang masuk untuk biaya sekolah dan hidup sehari-hari. Sebagai anak tertua, sebagian besar kehidupan remaja Rose dihabiskan untuk membantu ibunya mencari nafkah disamping bersekolah, demi mengisi perut yang sejengkal dan biaya sekolah Rose dan kedua adiknya. Kehidupan remaja Rose membuat Ia menjadi seorang gadis yang pendiam. Ia selalu rajin ke gereja dan baik-baik saja di kesehariannya tetapi ada satu hal yang tidak diketahui oleh orangtuanya.

Setiap hari minggu, Rose akan pamit kepada ibunya untuk pergi ke kolam renang atau jalan-jalan dengan OMK. Padahal, Rose pergi mencari “kenyamanan” di antara anak-anak brandalan di kotanya. Pergaulan yang merupakan pelarian yang baginya seolah menemukan kembali kehidupan remajanya. Rose merasa nyaman walapun teman-temannya banyak yang merokok, balap liar dan berandalan. Ia sering mencoba berbagai permainan yang bisa menghilangkan kesuntukannya. Terkadang Rose pulang sampai larut malam dan membuat ibunya cemas.

“Rose, darimana saja kamu nak? Ibu mencemaskanmu!” tanya ibunya. Tetapi Rose menjawab dengan tenang bahwa Ia bermain di gereja bersama OMK, tentu ibunya percaya karena Rose sudah terbiasa berbohong. Ya, kehidupan Rose tampak seperti berlian di luarnya tetapi kenyataannya Ia seperti pecahan kaca yang tak berguna.

          Sampai suatu ketika pertemuannya dengan bapak Martin membawa perubahan dalam hidupnya. Bapak Martin adalah seorang guru agama katolik yang aktif di gereja dan menjadi pembina OMK. Walau masih beberapa bulan menjadi pembina OMK bapak Martin berusaha mengenal OMKnya dengan baik. Beliau mengamati ada hal yang tidak biasa dari diri Rose. Hal itu membuatnya tertarik untuk berkunjung kerumah Rose dan bertemu dengan bapak dan ibu Rose. Dalam beberapa kali kunjungan, bapak Martin sadar hal yang tidak biasa itu berasal dari kehidupan pribadi Rose bukan dari keluarganya, karena keluarga Rose tampak bahagia walaupun hidup sangat sederhana.

         

Penting Bagi Ayah untuk 'Kencan' dengan Anak Perempuannya ...
dream.co.id

Rose teringat pertanyaan singkat yang membuat mata hati Rose tersentak,”Nak, bahagiakah Engkau dalam hidupmu?” Suara bapak Martin yang lembut membuat Rose terpaku menatap patung Bunda Maria di hadapannya. Kemudian setelah menarik nafas panjang, Rose menceritakan kehidupan pribadinya yang sebenarnya. Ia mengungkapkan kehidupuan masa remajanya, pergaulannya yang buruk dan kebohongan yang sering dilakukannya yang ditutupi dengan topeng “OMK yang menggereja”. Kemudian Pak Martin bertanya “Sudahkah mencari kebahagian dalam Tuhan?” Dan kemudian Pak Martin meninggalkannya begitu saja.

Ternyata percakapan mereka di sore itu menyadarkan Rose akan kehidupannya yang sudah menomor duakan kebahagian dari Tuhan. Tetapi Ia tak menyangka jika sore tadi Pak Martin memintanya untuk menjadi pendamping minggu gembira.

“Rose apa yang kamu pikirkan nak?” Bapak Rose bertanya dengan senyum yang sangat lembut karena melihat Rose termenung. Rose hanya bisa menatap bapaknya dengan mata berkaca-kaca. Ia sadar anugerah terindah dari Tuhan adalah keluarga sederhana yang menjadi sumber kebahagiannya di dunia. Rose bergegas ke kamar tidurnya, ia mengambil rosario yang tergantung di dinding dan berdoa, “Tuhan terimakasih untuk kebahagian yang selalu Engkau berikan. Engkau telah membuka mataku bahwa keluargaku adalah kebahagiaanku. Aku bersedia menjadi alat-Mu, meninggalkan kehidupan lamaku, menumbuhkan semangat baru untuk sepenuhnya berkarya dalam jalan-Mu, ampunilah dosa-dosa ku ya Tuhan, Amin.” Sesudah berdoa Rose bergabung kembali bersama bapak, ibu dan kedua adiknya untuk bernyanyi bersama. Kali ini wajah Rose sangat ceria dengan kalung rosario melingkar di lehernya Ia bertekad untuk menjadi OMK yang benar-benar menggereja, meninggalkan pergaulan yang buruk dan tentu saja menjadi pendamping minggu gembira yang baik.

Ance Afri Lianti Saragih
(Paroki SPP Kabanjahe)

Leave a Reply