Renungan

Hari IX: Novena memohon Roh Kudus

 395 total views,  3 views today

Sabtu Paska VII: Kis 28:16-20.30-31, Yoh 21:20-25

Iman adalah karunia Allah. Orang yang beriman adalah orang yang diberi karunia untuk mampu bertemu dan berbicara dengan Allah. Berbicara berarti ada saatnya manusia sebagai pendengar dan ada saatnya manusia berbicara untuk memuji, memuliakan dan memohon petunjuk-Nya. Hasilnya, manusia memiliki pedoman dan arah dalam berelasi dengan sesama manusia dan alam ciptaan Tuhan. Beriman juga berarti menuruti perintah Tuhan. Dengan pedoman itu, manusia tidak hanya mampu berelasi dengan sesama, tetapi manusia juga dipanggil untuk membangun persekutuan karena karunia yang sama dari Allah. Maka, iman tidak hanya urusan pribadi, tetapi juga berpengaruh pada kehidupan bersama. Tuhan memanggil semua manusia agar beriman. Dengan aneka cara manusia menjawab panggilan Tuhan. Ada yang menjawab panggilan Tuhan sejak bayi, tentu dengan bantuan orang tua. Ada yang menjawab panggilan Tuhan setelah dewasa. Ada yang menjawab panggilan Tuhan setelah menikah. Ada yang menjawab panggilan Tuhan setelah lansia. Pokoknya, beraneka ragam cara manusia menjawab karunia Tuhan. Emang benar iman itu karunia? Bukankah kalau kita makin beriman akan makin menderita karena iman memiliki konsekuensi? Orang beriman selalu dihadapkan pada dua pilihan, mengikuti kehendak Tuhan atau mengikuti kehendak diri sendiri dan orang sekitar. Ada saatnya sejalan kehendak manusia dan kehendak Tuhan, tetapi sangatlah sering kehendak manusia berbeda dan bahkan bertentangan dengan kehendak Tuhan. Karena itu tidak selalu mudah orang beriman memilih yang sesuai dengan imannya karena ada kebutuhan. Sering tarik-menarik, bahkan menegangkan. Apakah saya memilih yang dikehendaki Tuhan atau yang dikehendaki teman kantorku dengan segala persekongkolannya? Dua-duanya punya konsekuensi. Mengikuti yang kukehendaki atau mengikuti kehendak Tuhan yang hadir dalam keputusan pimpinan? Juga dua-duanya punya konsekuensi. Apakah saya melakukan pekerjaan yang mendatangkan untung atau mengutamakan pelayanan sosial yang nirlaba? Setiap pilihan punya konsekuensi. Pertanyaan-pertanyaan ini tidak mudah dijawab oleh orang beriman justru karena iman memiliki konsekuensi. Kalau demikian, benarkah iman adalah karunia? Marilah kita dalami Injil hari ini.

Dalam Injil hari ini, dikisahkan kepada kita perbincangan Yesus dengan Petrus. Kemarin sudah disahkan tugas dan jabatan Petrus sebagai gembala. Tentu, Petrus dipilih dan dilantik menjadi gembala karena ada kawanan yang harus digembalakannya. Tugasnya berat, karena itu diminta kompetensi lebih dari dirinya melebihi murid yang lain, yakni cinta yang besar. Hari ini, Petrus menunjukkan sisi kemanusiaannya lagi. Melihat murid yang lain, Petrus berkata kepada Yesus: “Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?”. Dengan kata lain, Petrus agak bersungut-sungut dengan berkata: “Masak sih tugasku berat sementara dia cuma gitu aja? Tugasnya apa? “. Jawab Yesus, “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau, ikutlah Aku”. Nah, inilah yang perlu kita dalami. Petrus sebagai orang yang ekstrovert dinasihati oleh Yesus agar tetap konsentrasi pada kata-kata Yesus: “Ikutlah Aku”. Bolehlah memikirkan nasib orang lain, hidup orang lain, kesalahan orang lain, kejahatan orang lain, kejatuhan orang lain, tetapi tetaplah konsentrasi pada kata-kata Yesus: “Ikutlah Aku”. Orang beriman sering terganggu karena melihat orang yang jarang ke Gereja justru hidupnya berhasil. Makin terganggu lagi karena orang Kristen yang ajarannya Kasih seolah-olah tak berdaya berbuat apa-apa bagi para penista termasuk merasa kalah sama si Ucok. Padahal si Ucok sedang cari perhatian. Orang beriman semakin terganggu lagi karena semakin berdoa ternyata beban dan kesulitan tidak selesai. Dimana karunianya? Pertanyaan ini juga bisa memicu frustrasi orang beriman. Maka, konsentrasi kita selalu dalam hidup beriman adalah kata-kata Yesus: “Ikutlah Aku”. Seperti perkataan Yesus kepada Petrus, Yesus berkata juga kepada kita: “Ikutlah Aku”. Kalau sudah bersama Yesus mau apa lagi? Marilah kita berdoa: “Tuhan, utuslah Roh-Mu kepada kami agar kami bertekun sebagai pengikut-Mu”
(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply