ArtikelNewsOMK KAM

Orang Muda Katolik dan Kebaikan Bersama

 550 total views,  2 views today

Orang Muda Katolik (OMK) merupakan wadah bagi orang muda Katolik untuk mengaktualisasikan dirinya. Apabila kita cermati, OMK pastilah berisikan orang-orang muda Katolik. Orang muda dalam konteks OMK bukan merupakan orang yang hanya kelihatan muda secara penampilan, melainkan harus juga memiliki semangat muda yang berbara. Oleh karena itu, kita dapat dengan mudah mengetahui OMK dari semangat yang terpancar dari dalam diri mereka. Namun, banyak dari kita yang bertanya “Apa yang sebenarnya dilakukan oleh OMK ini?”. Ketika kita melihat kedalam OMK, begitu banyak kegiatan dilakukan oleh para kaum muda tersebut baik kegiatan di sekitar lingkungan Gereja, maupun kegiatan di masyarakat. Lantas, apa pengaruh OMK dalam kehidupan bermasyarakat?

Manusia adalah makhluk yang berakal budi.[1]Aristoteles mengatakan bahwa manusia merupakan animal rationale atau hewan yang berakal budi. Manusia juga merupakan makhluk multi dimensional, paradoksal dan dinamis. Hal tersebut mengakibatkan pandangan atas manusia beraneka ragam. Pengertian akan manusia pun tidak dapat terlepas dari konteks budaya dan historis.

Eksistensi berarti keadaan yang aktual, yang terjadi dalam ruang dan waktu; dan bereksistensi yaitu menciptakan dirinya secara aktif, berbuat menjadi dan merencanakan. [2]Salah satu cara untuk mencermati eksistensi manusia ialah dengan mengintensifkan kehadiran manusia pada dirinya yang bertubuh (embodied being). Manusia memiliki keberadaan melalui tubuhnya. Badan menjadi hal yang manusiawi karena kesatuannya dengan ke-aku-an manusia. Manusia kemudian dapat menyebutkan bahwa apabila badannya sakit, sebenarnya “aku”nyalah yang sakit atau dengan kata lain, apabila sesuatu terjadi pada badan seorang manusia, sesungguhnya “aku” lah yang mengalami sesuatu tersebut. Hal ini karena aku dan badanku adalah sesuatu yang identik. Akan tetapi, aku dan badanku juga dapat dikatakan tidak identik. Aku dapat menyembunyikan diriku. Manusia dapat bersandiwara. Wajah ku dapat terlihat ramah, walaupun sebenarnya aku sedang marah. Terlepas dari manusia yang dapat menipu, kita dapat melihat suatu hal yang pasti, yakni tidak terdapat badan manusiawi tanpa kesatuan dengan subjek aku.[3]

OMK merupakan kesatuan individu-individu manusia muda yang berusaha untuk meng-eksistensikan dirinya. Orang muda menggunakan wadah OMK sebagai tempat untuk menjalin ikatan dengan orang muda lainnya dan menumbuhkan serta meneguhkan iman Katolik mereka. Namun, ditengah arus informasi yang semakin deras sekarang, semakin banyak berita miring (hoax) beredar di masyarakat, terutama di kalangan muda. Selain itu, semakin banyak ditemukan isu-isu ketidakadilan yang ditemukan di dalam masyarakat. Maka dalam menanggapi hal tersebut, OMK harus mampu menjadi pembawa terang kebenaran dan keadilan dimana pun ia berada. OMK hadir sebagai pembawa solusi atas setiap permasalahan yang timbul.

Ada satu kutipan yang mengatakan “If you are neutral in situations of justice, you have chosen the side of the oppressor” atau “Jika anda bersikap netral terhadap suatu keadaan ketidakadilan, maka kamu berada di pihak mereka yang tidak adil.” Kutipan ini berbicara sangat jelas. Kita sebagai umat manusia harus bertindak sebagai agen penyuara ketidakadilan. OMK sebagai salah satu garda terdepan harus secara jelas menyuarakan setiap ketidakadilan yang ada. OMK dituntut untuk dapat mengaktualisasikan dirinya. Eksistensinya harus dinyatakan. OMK harus menciptakan dirinya secara aktif, merencanakan serta berbuat suatu langkah yang konkret atau melalui tindakan nyata, tidak hanya ucapan saja. Mereka tidak dapat berpura-pura seolah keadaan baik-baik saja. Oleh karena itu, sudahkah kita menjadi OMK yang ber-eksistensi?

Karina Silaen

Leave a Reply