Cerpen

Juli kelabu… Juli sukacita…

 480 total views,  3 views today

Udara dingin bernostalgia dengan fajar. Mentari pagi mengintip dari sela-sela jendela kamarku. Kutarik selimutku setengah badan, rasa kantuk masih menguasai. Semalaman aku tak bisa tidur dan ini bukan kali pertamanya. Menghitung bintang, bercakap-cakap pada rembulan, memarahi jangkrik-jangkrik yang kadang over acting adalah ritual yang biasa kulakukan. Hari-hari berlalu meninggalkan jejak-jejak rahasianya.

Aku mulai menyukai malam. Malam tempatku menaruh mimpi pada ruang tersunyi. Sepoi angin malam menuangkan kenangan ke dalam tubir ingatanku. Malam selalu dihiasi dengan pertengkaran dan rekonsiliasi dengan bayangnya. Aku bisa tanpanya tapi tidak tanpa bayangannya. Menengok masa lalu yang melapukkan perasaanku. Itulah hari-hari yang menemaniku.

Sudah empat tahun aku menikmati panorama kota Gudeg ini dan akrab dengan gamelan. Mata dimanjakan dengan pertunjukan wayang, tapi tangan dan kakiku tetaplah ingin manortor mengikuti sarune dan gondang. Lidah yang sudah bersahabat dengan bacem tetaplah merindukan arsik dan mie gomak ala namboruku.

Aku selalu merindukan masa kecilku. Mungkin tepatnya bukan merindukan tapi mendambakan. Mimpi sederhana, bergelanyut manja dalam pelukan ayah, sembari mengacak-acak rambutku dan sesekali memarahiku dengan lembut sambil menggenggam jemari kecilku. Tiap pagi, duduk di perapian dengan pipi merah sambil menikmati ombus-ombus dengan secangkir kopi. Impian itu tak berujung hingga detik ini.

Sayangnya… “pahlawanku” itu hanya bisa menatapku dengan nanar. Tangannya tak kuasa menggenggam jemari kecilku. Tingkah nakalku tak memancing emosinya. Lidahnya kelu, menyimpan erat kata bijaknya. Aku sering mencubitnya berharap ia akan memarahiku. Atau sengaja membiarkannya lapar agar ia berteriak membentakku. Tapi semua usahaku sia-sia. Ekspresinya tetap datar seakan tak berjiwa. “Ayah… aku sangat merindukanmu”. Aku merintih lirih menyebut namanya.

Juli, 15 tahun yang lalu, peristiwa itu masih melekat erat dalam ingatanku. Pagi itu, saat burung berkicau riang menyambut hari, ibu dan ayah bertengkar hebat. `Ntah apa yang sebenarnya terjadi, tiba-tiba ibu melemparkan seuntai rosario pada ayah. Rosario cantik yang biasanya disimpan ibu di dompetnya. Butiran-butiran itu berhamburan ke lantai. Seingatku itu adalah rosario kenangan perkawinan mereka. Ayah hanya menatap ibu tanpa mengucapkan sepatah katapun tapi air mata tampak tergenang di pelupuk matanya. Sejak itu aku tak pernah lagi melihat ibu. Ibu pergi meninggalkan kami.

Aku tak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Hari-hari kami terasa sepi tanpa ibu. Ayah larut dalam kesedihannya. Ladang tak lagi mendapat sentuhan tangannya. Rumput dan ilalang bersorak riang di lahan yang seakan tak bertuan. Hari-hari semakin mencekam, ayah menjadi lumpuh, sejak itu tak sepatah katapun keluar dari bibirnya. Tapi aku dan namboru tetap setia merawatnya. Masa kecilku terasa suram tapi tidak dengan masa depanku, itulah komitmenku.

Aku tumbuh sebagai remaja yang gigih walau tak kupungkiri hati ini terkadang rapuh. Kubangun masa depanku, tekun belajar dan ingin meraih sukses. Aku ingin cepat-cepat selesai kuliah, bekerja, punya uang dan merawat ayah. Ayah salah satunya alasanku berjuang. Begitulah hari-hari kulewati.

Suatu hari, kami mengadakan rekoleksi di gua Maria Kerep Ambarawa. Aku duduk sambil memandang Patung Bunda Maria. “Ah, Yesus… aku iri, Kau punya ibu yang selalu ada bersamamu” kalimat itu terlontar spontan dari bibirku. Betapa besar kerinduanku memiliki keluarga yang utuh. Selama ini, aku mempersalahkan ibu atas semua ini, ingin menuntutnya mengembalikan masa kecilku yang hilang. Tapi kali ini tidak… tak ada kemarahan, yang ada hanyalah kerinduan. Aku rindu ibu.

Cukup sudah menangisi kehidupan ini, cukup sudah mengkambinghitamkan ibu atas segala yang terjadi. Aku akan mencari ibu, membawanya pada ayahku yang setia menunggunya. Kado terbesarku untuk ayah di bulan Juli, membawa ibu pulang. Aku tahu ibu ada disini, di tempat ini, di sini desa kelahiran ibu. Dan benar, aku melihatnya, berdiri di depan gua Maria, memasang lilin dan memejamkan mata sembari berdoa. Ibu tampak lebih tua, wajahnya tak secantik dulu lagi. Tapi aku masih mengenalinya. Tanpa ragu kupeluk ibu dari belakang dan aku berbisik “Ibu… ini aku Butet”. Tangis kami pecah dan ibu memelukku erat.

Dan hari itupun tiba. Pesawat pagi itu menerbangkanku ke Kualanamu. Tak sedetikpun mataku terpejam. Ingin mata ini takluk rebah dalam buaian mimpi indah. Tapi Jantung berdebar kencang. Aku ingin pesawat ini lebih lama mendarat sampai nafas ini menjadi lebih teratur. Ibuku sekarang ada disampingku, kami akan pulang menjumpai ayah.

Tiba di tanah kelahiranku, aroma khas kampung halamanku begitu terasa. Ibu berdiri di bawah pohon tempatku biasa bermain. Kakinya terhenti, seakan tak sanggup untuk bertemu dengan ayah. Berbeda denganku yang segera berlari kencang sambil berteriak memanggil ayah. Akhirnya ibu menyusulku dari belakang. Ibu bersimpuh di kaki ayah. Dan mujizat itu nyata, tangan ayah bergerak memeluk ibu. “Aku menunggumu… aku menunggumu” dengan suara terbata-bata ayah mengulangi kalimatnya.

Nyata sudah impianku… mengembalikan ibu pada ayah, memiliki keluarga utuh dan rukun. “Ah, Yesus, aku tak iri lagi padamu, ungkapku sambil memandang patung keluarga Kudus Yesus, Maria dan Yosef. Terimakasih Tuhan!” Juli kelabu kini menjadi Juli Sukacita.

Ira Panduwinata

(Paroki Saribudolog)

Leave a Reply