ArtikelNewsOMK KAM

Bahasa Indonesia, Masih Terjajahkah?

 435 total views,  2 views today

Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.” Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita menemukan generasi-generasi muda, tidak terkecuali Orang Muda Katolik (OMK) yang menggunakan bahasa Indonesia yang telah bercampur aduk dengan bahasa Inggris. Salah satunya adalah ketika OMK tersebut lebih bangga mengatakan “Udah ku download file yang kamu sent kemarin” dibandingkan “Udah ku unduh berkas yang kamu kirim kemarin” OMK kita juga lebih bangga menggunakan kata “so” daripada kata “jadi” atau “stop” daripada “berhenti”.

Di sisi lain, terkadang rasa kecintaan terhadap bangsa Indonesia malah diungkapkan dengan bahasa asing seperti “Oh My God! I love Indonesia” dan bukan “Ya Tuhan, Aku Cinta Indonesia” atau “Congratulation, Indonesia! Happy Independence Day” bukan “Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Dirgahayu!”. Sungguh ironi, seorang yang katanya cinta dengan Indonesia harus menggunakan bahasa Indonesia dengan mencampuradukkan dengan bahasa lain. Apakah memang penggunaan bahasa Indonesia kurang bergengsi dan kurang berwibawa?’ Lantas apakah sebenarnya tujuan penggunakan bahasa yang sedemikian rupa dan apa sesungguhnya fungsi bahasa Indonesia itu sendiri? Ada apa sebenarnya yang terjadi dengan tatanan bahasa Indonesia kita tercinta ini?

# # # #

Bahasa adalah suatu alat komunikasi yang digunakan oleh manusia untuk bertukar pikiran, mentransmisikan ide/gagasan, dan ilmu pengetahuan. Selain sebagai alat komunikasi, bahasa juga sebagai alat pemersatu bangsa. Ada ungkapan, tanpa bahasa Indonesia, Indonesia bukanlah Indonesia. Ungkapan tersebut mencerminkan betapa pentingnya bahasa sebagai pemersatu bangsa. Dengan bahasa Indonesia, bangsa Indonesia dapat bersatu meraih kemerdekaan.

Dewasa ini, bangsa Indonesia memiliki tantangan terkuat yakni penjajahan oleh bahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Dalam puisi Taufiq Ismail yang dimuat Majalah Sastra Horison (Desember 2010), Taufiq Ismail mengutarakan kecemasannya tentang bagaimana mungkin bahasa Indonesia menjadi bahasa yang terpinggirkan bahkan di negaranya sendiri. Taufiq Ismail pun mengkritik penggunaan istilah bahasa Inggris yang bahkan sudah ada padan katanya dalam bahasa Indonesia.

Penjajahan bahasa Inggris, sebagaimana yang diutarakan oleh Taufiq Ismail adalah suatu bentuk mental inlander atau mental rendah diri terhadap kebudayaan asing, khususnya bahasa. Apa yang diutarakan Taufiq Ismail merupakan gambaran dari ketidakpercayaan diri bangsa Indonesia dalam berbahasa Indonesia. Mental minder para pengguna bahasa Inggris yang berlebihan dalam konteks ke-Indonesia-an merupakan masalah utama. Bahasa Inggris, bagi pengguna yang berlebihan di Indonesia merupakan simbol modernisasi. Bagi mereka, dengan menggunakan bahasa Inggris, mereka akan terlihat begitu modern dan mengikuti perkembangan zaman.

# # # #

Jika mengingat kembali sejarah perjuangan bangsa Indonesia, bangsa kita adalah bangsa yang kuat, yang terletak pada persatuan yang kuat dengan dukungan penggunaan bahasa Indonesia. Dapat dibayangkan apa yang terjadi jika penggunaan bahasa Indonesia saat itu belum digunakan secara sadar, tentu Indonesia tidaklah bisa bersatu dan merdeka seperti saat ini.

Andaikan kita pahami, sesungguhnya bangsa kita masih terjajah. Namun penjajahan yang dilakukan bukan melalui model perang, melainkan penjajahan dari perspektif bahasa. Misalnya, banyaknya sekolah bertaraf internasional yang mengharuskan peserta didiknya berbahasa Inggris padahal tidak ada pasal yang menyatakan secara gamblang bahwa kurikulum yang digunakan harus kurikulum bertaraf internasional. Lebih lanjut dijelaskan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 pasal 36 ayat 1 berbunyi, “Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional”. Pasal itu menggambarkan penerapan dan pengembangan kurikulum harus dilaksanakan demi kemajuan pendidikan nasional tanpa pengabaian ketetapan yang telah ada.

Penerapan bahasa Inggris sebesar 75% di sekolah bertaraf internasional menandakan bahwa bahasa Indonesia lebih rendah kedudukannya dibandingkan bahasa Inggris. Hal itu sangat jelas bertentangan dengan isi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 Pasal 33 ayat 1, yang berbunyi “Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara menjadi bahasa pengantar dalam pendidikan nasional”. Walaupun pada ayat 3 menyinggung bahasa asing dapat digunakan sebagai bahasa pengantar pada satuan pendidikan tertentu, bukan berarti bahasa asing lebih diutamakan. Inilah tujuan jangka panjang dari penjajahan bahasa itu. Oleh sebab itu, sesuailah kata orang bijak dulu, “jika ingin menguasai suatu bangsa, kuasailah terlebih dahulu bahasanya.”

Dampak lain yang ditimbulkan keberadaan sekolah bertaraf internasional adalah beban “moral dan psikologis” khususnya bagi guru bahasa Indonesia. Beban moral dirasakan ketika sang guru harus lebih mengutamakan bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia saat mengajar padahal sebagai warga negara Indonesia dan sebagai guru bahasa Indonesia seharusnya ia mengajar dengan menggunakan bahasa Indonesia. Dari segi psikologis, guru tersebut akan merasa tertekan batin. Guru dalam proses belajar dan mengajar seolah-olah dipaksa oleh sistem dan aturan yang berlaku. Sistem dan aturan dibuat demi menjaga nama baik sekolah bertaraf internasional tersebut. Alasan klasik yang selalu menekan hati nurani para guru bahasa Indonesia.

Cara mengantisipasi bentuk penjajahan bahasa itu hanyalah dengan kembali pada konstitusi yang telah ada. Sebagaimana tertulis pada pasal 36 UUD 1945, yang berbunyi, “Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia”. Itu artinya seruan dan keharusan bahwa bahasa resmi di negara kita adalah bahasa Indonesia tak terkecuali di sekolah bertaraf internasional sekalipun. Jika ingin menjadi yang terdepan di kancah internasional bukan berarti bahasa Indonesia yang harus dijajah dan dipinggirkan, melainkan harus memperkuat kedudukan bahasa Indonesia itu sendiri. Jangan bahasa Indonesia yang dinomorduakan, tapi buat bangsa asing menomorsatukan bahasa Indonesia. Pengaturan bahasa Indonesia itu sejalan juga dengan isi Undang-Undang No. 24 Tahun 2009 tentang bendera, bahasa, dan lambang negara.

Fenomena lain yang juga harus diperhatikan dan perlu dikritisi adalah pengaruh dunia hiburan yang merusak budaya berbahasa Indonesia. Sebagian warga Indonesia -khususnya generasi muda, tidak terkecuali OMK- sengaja mencintai bahasa lain hanya demi mengikuti semaraknya dunia hiburan dan guna memahami isi lirik-lirik lagu asing yang mereka lantunkan. Hal itu berarti para tiang negara ini seolah dituntun dan diarahkan untuk mempelajari bahasa asing. Secara tidak langsung kedudukan bahasa Indonesia dengan posisi yang sudah kuat kini tergeser oleh bahasa asing.

Menindaklanjuti hal itu, ada beberapa hal yang dapat pemerintah perbuat. Pertama, pemerintah sepatutnya membuat peraturan yang lebih ketat dalam hal pemberian izin sekolah-sekolah bertaraf internasional. Jangan terlalu mudah memberi izin, tetapi tanggaplah pada manfaatnya bagi bangsa Indonesia. Kalau hanya lebih menguntungkan pihak bangsa asing, lebih baik segera meniadakannya. Selain itu, sebaiknya lebih ditingkatkan pula penggunaan bahasa Indonesia di sekolah-sekolah.

Kedua, pemerintah juga harus lebih serius menangani kehebohan dunia hiburan. Pemerintah dapat mencegah kehebohan itu dengan tidak semudah itu memberi izin konser musik asing di Indonesia. Kalau pun diberi izin, kelompok musik asing sebisa mungkin harus melantunkan lagu-lagunya ke dalam bahasa Indonesia sehingga di satu sisi kita akan tetap menikmati lagu dengan versi bahasa Indonesia dan di sisi lain mereka tetap menghargai bahasa Indonesia. Seandainya hal itu dapat diterapkan, niscaya penjajajahan terhadap bahasa Indonesia dapat diminimalkan.

# # # #

Akhirnya, semua kembali pada diri kita masing-masing. Kesediaan dalam memperjuangkan bahasa Indonesia melawan penjajah bahasa Inggris tergantung pada para pemakai bahasa Indonesia itu sendiri. Tanpa adanya semangat untuk merdeka dari bahasa Inggris, bahasa Indonesia akan tetap terjajah oleh bahasa Inggris selamanya.

Oleh sebab itu, marilah kita lebih mencintai bangsa Indonesia dengan memperlihatkan kecintaan kita pada bahasanya sendiri. Kecintaan tersebut bukan hanya sekadar ucapan belaka, melainkan pengaplikasian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ayo, kita lestarikan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang harus kita junjung tinggi dan kita banggakan. Merdeka!

Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.” Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928

Deasy Handayani Purba

Leave a Reply